November 7

Warna alam di sekitar masih gelap kelabu. Semilir angin membawa hawa sejuk penuh embun dan menciptakan gerisik daun-daun dari pohon-pohon di sekeliling berugak—balai bengong dari kayu dan bambu khas Lombok—tempat saya duduk bersila.

Sisa-sisa daun meranggas masih berserakan di bawahnya. Udara dingin pagi memagut kulit wajah dan tangan saya tanpa ampun. Saya mencoba menghalau dingin dengan menyesap kopi kental yang aroma rempahnya menguar memenuhi ruang berugak tempat saya duduk.

Sambil terus menyesap kopi yang hangatnya menjalar hingga ke seluruh tubuh, saya mengarahkan pandangan ke Pahrul Azim dan Abdul Alix yang sedang sibuk menyiapkan sepeda di depan Tourist Information Center (TIC) Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah.

Pahrul dan Alix adalah pengelola kelompok Desa Wisata Hijau Bilebante dengan pengurus aktif sekitar 15 orang dan 30 anggota yang semuanya adalah generasi milenial. Desa ini diresmikan Wakil Bupati Lombok Tengah sebagai desa wisata hijau pada 1 September 2016 lalu.

Sepeda-sepeda yang terawat baik itu diletakkan berbaris rapi sejajar menghadap jalan raya di depannya. Pahrul dan Alix sesekali menyapa beberapa petani lokal yang berjalan melewati TIC menuju sawah dan kebun untuk memulai tugas. Tak tampak sisa-sisa serial gempa yang menimpa Lombok di sini. Semua orang berusaha bangkit dan kembali hidup normal.

Alix kemudian masuk ke dalam TIC dan membereskan ruangan berukuran 3 x 3 meter itu. Dia lalu meletakkan sepiring Cerorot—kudapan tradisional Lombok berbentuk kerucut berbahan dasar gula merah dan tepung beras, sambil mempersilakan saya untuk memakannya.

TIC berada dalam bangunan permanen dengan pintu kayu geser. Dindingnya dicat warna-warni, penuh lukisan, tulisan dan spanduk promosi Desa Wisata Hijau Bilebante. Di depannya berdiri berugak di bawah pohon yang menutupi hampir seluruh bagian atapnya. Hanya ada satu bangku kayu dan meja kayu pada bagian teras depan. Pada malam hari, TIC berubah fungsi menjadi ruang penyimpanan sepeda. Bangunan ini adalah sumbangan pemilik tanah yang digunakan secara gratis oleh pengelola kelompok Desa Wisata Hijau Bilebante.

“Kami punya dua “bintang” di sini, Pasar Pancingan dan Bersepeda. Bagaimana, sudah siap?” tanya Pahrul, sambil menyesap kopi dari cangkirnya. Pagi itu, kami akan menjajal dua bintang yang disebutkan Pahrul. Khusus hari minggu, tim desa menggabungkan kunjungan ke Pasar Pancingan dengan wisata bersepeda. Walau begitu, tetap ada pilihan menikmati salah satu.

Saya mengangguk dan mengambil helm yang disodorkan Pahrul, sambil menatap Alix yang sedang memasukkan pompa ban sepeda berukuran mini serta beberapa set obeng ke dalam tasnya.

“Jalurnya mudah, tapi sebaiknya pakai helm untuk safety,” Alix mulai buka suara. Alix adalah sarjana yang mengabdi menjadi guru muda di desanya. Dia menjelaskan medan yang akan kami hadapi, lalu menguraikan sedikit anatomi sepeda yang akan saya bawa dan tips bersepeda yang aman. “Rute yang akan kita lewati sebagian pematang sawah dan kebun. Sebagian melalui jalur persawahan yang dirabat.”

Sepeda-sepeda kami mulai membelah jalan Raya Bilebante yang beraspal, melawan hembusan angin yang semakin menghangat seiring semburat jingga yang pelan-pelan mengubah alam di sekitar kami menjadi lebih berwarna. Kami belok ke jalur pematang sawah dan kebun. Pohon-pohon buah tumbuh berbaris di beberapa titik menjadi peneduh jalan. Sejauh mata memandang, bagian kiri dan kanan jalur berupa sawah dan kebun adiwarna.

Saya yang tadinya santai mulai siaga karena di depan sana ada sedikit turunan dan dilanjut dengan tanjakan. Alix sudah membekali saya teknik “bermain-main” menguasai rem depan pada jalur turunan. Tak ingin berakhir tragis akibat nyungsep ke sawah, saya berkonsentrasi penuh agar bisa melewati turunan dan tanjakan ini dengan sukses. Mendapat “bonus” pada turunan, saya mulai mengayuh melalui tanjakan. Ternyata lebih sulit. Tak tahan, saya menghentikan sepeda di tengah-tengah tanjakan dan lanjut dengan mendorong sepeda. Kami bercanda sambil menertawakan kandasnya sepeda saya melintasi rintangan jalur.

Di sepanjang pematang, para petani yang sedang berada di kebun dan sawah menyapa dengan ramah. Di satu titik, salah satu petani menawarkan pepaya pada kami. Di titik yang berbeda, petani lainnya menawarkan singkong dari kebunnya. Di sini Pahrul dan Alix turun, lalu menarik batang singkong, membersihkan, dan membagi hasilnya untuk dibawa.

“Nanti kita masak singkongnya sambil bakar ikan di Pasar Pancingan!” Pahrul berkata riang sambil melanjutkan bersepeda. Di salah satu kebun, Pahrul dan Alix berhenti sambil menunjuk hamparan cabai dengan tiga warna berbeda.

“Di sini kami punya sistem tanam tiga kali setahun. Padi, padi, dan padi; atau padi, padi dan palawija. Jadi kami bisa menanam padi tiga kali setahun dan satu kali palawija,” kata Pahrul sambil mengajak saya menyusuri hamparan kebun cabai di depan kami. “Palawija itu berupa cabai, jagung, kacang-kacangan, kedelai atau bawang,” lanjutnya lagi.

Berada di Desa Bilebante, akan meluluhlantakkan konstelasi imaji kebanyakan orang tentang Lombok yang dicitrakan dengan pantai biru. Mungkin seperti inilah Ubud 30 tahun lalu. Hamparan sawah dan kebun yang tersusun rapi, suasana tenang didekap sepi, sarat kedamaian dibungkus keramahan masyarakatnya. Di sini air dari irigasi Gebong berlimpah mengairi 226 hektare lahan pertanian dan 87 hektare kebun milik masyarakat di desa yang jumlah penduduknya 4012 jiwa ini.

Sebelum 2016, Desa Bilebante masih luput dari radar para traveler di Lombok dan luar Lombok. Padahal, Lombok tengah naik daun. Ditetapkannya Mandalika sebagai salah satu 10 destinasi wisata baru oleh Kementrian Pariwisata serta status yang disandang sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata, menyematkan Lombok menjadi salah satu destinasi wisata paling diburu. Tingkat kunjungan pun makin meningkat. Pada 2017 lalu, Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merilis data tingkat kunjungan wisatawan ke provinsi tersebut telah melesat ke angka 3,5 juta wisatawan.

Mandalika dengan berbagai statusnya telah menyebarkan “gula” di Lombok. Bertekad untuk turut merasakan “gula” tersebut, serta mematri nama Desa Bilebante pada peta wisata Lombok; Pahrul dan teman-temannya berjibaku melakukan berbagai eksperimen. Menurut Pahrul, yang sehari-harinya bekerja di kantor desa, dia dan teman-teman di desanya tak ingin menjadi bagian dalam penempatan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Dimana menurut data BNP2TKI, Kabupaten Lombok Tengah berada dalam posisi 5 besar di Indonesia pada tahun 2017 sebagai “pengekspor” tenaga kerja ke luar negeri.

Berusaha berdikari, Pahrul dan kelompoknya bekerjasama dengan Koperasi Wanita Putri Rinjani di Bilebante hingga akhirnya mendapat pendampingan dari GIZ, sebuah lembaga BUMN Pemerintah Federal Jerman yang bergerak dibidang pembangunan dan pengembangan. Kelompok desa wisata dan koperasi wanita mendapat pelatihan pengembangan kapasitas dan bantuan promosi. Sehingga terbentuklah jalur wisata bersepeda dengan berbagai aktivitas sebagai pelengkap itinerary. Gerakan Pahrul, Alix dan kelompok wisatanya bukannya tanpa aral.

“Desa kami dulu dijuluki sebagai desa debu. Di sini banyak berlangsung penggalian pasir (galian C). Banyak yang meragukan dan kami menerima ejekan saat mulai mengembangkan pariwisata. Orang Lombok sendiri banyak yang tidak tahu Bilebante,” katanya sambil menerawang.

Pariwisata bukan isu seksi di Bilebante. Tak ada masyarakat yang percaya pada kelompok anak muda penggagas desa wisata ini. Pahrul dan kelompoknya berusaha meluruskan stigma miring pariwisata di desanya. Di Bilebante kala itu, pariwisata sama halnya dengan pantai, hotel besar puluhan tingkat, wisatawan asing berbikini yang berperilaku tidak sesuai dengan syariat agama serta restoran mewah dengan daftar menu yang mungkin tidak dipahami sebagian besar orang di desa. Desa dengan sawah-sawah dan kebun seperti di Bilebante bukanlah sesuatu yang menarik untuk pariwisata karena masyarakat melihat atraksi itu setiap hari sepanjang hidupnya. Lagipula, siapa yang mau datang ke desa yang disebut dengan desa debu?

Ikhtiar kelompok ini mulai membuahkan hasil. Dimulai dari membuat brosur, akun instagram dan informasi antar teman, sedikit demi sedikit Desa Bilebante mulai kedatangan tamu yang ingin bersepeda. Pengunjungnya beragam: mulai dari anak sekolah, kelompok mahasiswa, pegawai kantoran hingga wisatawan asing. Walau jumlahnya belum signifkan, Desa Bilebante mulai merasakan “gula”. Agustus 2016, kelompok ini mendapat bantuan 10 sepeda dari Bank NTB. Hingga Agustus 2018, sepeda tersebut telah “beranak” menjadi 13 sepeda dari hasil penjualan.

“Kami aktif di Instagram dan Facebook Page. Saat promosi paket wisata sepeda itulah, kami bertemu GenPi Lombok-Sumbawa yang kebetulan sedang survei lokasi untuk menciptakan destinasi digital baru di Lombok. Itulah titik yang mengubah wajah desa kami ke tingkat yang lebih tinggi lagi…sehingga bisa seperti sekarang,” jelas Pahrul sambil mengajak saya melanjutkan bersepeda, berlalu dari hamparan cabai di hadapan kami.

“Dulu, kalau mengetik Desa Bilebante di Google, tidak akan menemukan apa-apa. Sekarang, kami hadir online di mana-mana. di Instagram, Facebook, blog, bahkan media online nasional. Orang datang ke sini juga karena media sosial. Foto-foto selfie di Pasar Pancingan dan sawah-sawah kami sekarang bisa dilihat seluruh Indonesia!”

Pahrul dan teman-temannya tentu tidak menyangka, pertemuan mereka dengan GenPi—Generasi Pesona Indonesia, kelompok netizen binaan Kementrian Pariwisata dan tersebar di seluruh Indonesia, akan membuka pintu pariwisata di Desa Bilebante menjadi lebih lebar lagi. Akhirnya saya paham. Pahrul dan Alix mengajak saya bersepeda terlebih dahulu untuk menunjukkan cikal bakal Pasar Pancingan. Kreativitas membuat mereka punya ide untuk membuat paket wisata baru khusus hari minggu, bersepeda dan berkunjung ke Pasar Pancingan.

Di salah satu kampung dengan bentuk pagar dan rumah-rumah seperti di Bali, kami singgah di sebuah berugak. Beberapa ibu dan orang tua tampak berkumpul membuat kerajinan anyaman kesemat, ingke (piring dari anyaman lidi), dan tusuk sate. Kesemat digunakan masyarakat Hindu saat sembahyang. Di pulau seribu masjid ini, variabel keberagaman adalah pemandangan yang memikat. Bisa jadi itu filosofi yang diturunkan para orang tua di Bilebante dulu ketika desa terbentuk. Adat istiadat setempat menahbiskan masyarakat Bilebante sebagai pemilik pertalian yang solid walau ada perbedaan, sesuai dengan makna kata Bilebante. Bile berarti buah maja, bante adalah semak belukar yang mencengkram kuat; Bilebante berarti buah maja yang saling mengcengkram kuat dengan semak belukar yang membungkusnya.

“Di sini mayoritas penduduk beragama Islam, dari delapan dusun, ada dua dusun Hindu. Kami hidup harmonis dan penuh toleransi,” jelas Pahrul sambil menyapa para ibu di berugak. Mereka berkumpul setiap sore dan pagi pada akhir pekan. Para ibu itu mempersilakan saya menguji kemampuan membuat anyaman seperti mereka. Setelah beberapa kali mencoba, saya berhasil merusak satu deret anyaman yang telah terjalin rapi. Para ibu itu hanya tertawa melihat “hasil karya” saya dan memberi semangat untuk mencoba lagi. Walau sulit, akhirnya satu lajur yang terlanjur rusak itu bisa saya rapikan kembali.

Lamat-lamat, suara kelompok seni Bale Ganjur (orkestra musik tradisional Sasak) yang tengah berlatih terdengar sebagai latar di belakang kami. Kelompok seni ini berlatih setiap akan ada pertunjukan. Jika ada yang bersepeda, akan singgah melihat mereka berlatih. Termasuk saya.

Itinerary bersepeda juga menyisipkan kunjungan ke Pura Lingsar Kelod, pura tertua di Desa Bilebante yang dibangun pada 1922. Pura yang masih menjadi pusat kegiatan ibadah warga Hindu ini dikelilingi pohon-pohon besar mencuar ke angkasa, sehingga sinar matahari tidak dapat menembus kompleks pura. Sejatinya, salah satu alur yang ditawarkan saat bersepeda adalah singgah di Koperasi Wanita Putri Rinjani untuk melihat pusat olahan makanan. Namun pada akhir pekan seperti ini, kami memutuskan bertolak ke Pasar Pancingan terlebih dahulu.

Wisata bersepeda adalah embrio. Namun Pasar Pancingan adalah hasil yang tidak mendustakan proses yang baik. “Waktu itu Mbak Jhe—sapaan akrab Mbak Siti Chotijah, datang ke sini bersama timnya dari GenPi Lombok-Sumbawa. Survei dan diskusi dengan kami. Akhirnya muncul ide menciptakan Pasar Pancingan dalam waktu kurang dari satu hari,” Pahrul menjelaskan dengan ekspresi takjub yang tak mampu disembunyikannya.

“Di Lombok, banyak sekali desa wisata; tapi menurut GenPi, kami terpilih karena selain memiliki potensi, kami juga punya tim yang kompak dan “melek digital”. Kami adalah tim yang aktif di media sosial walau belum terlalu mahir.”

Pasar Pancingan, destinasi digital yang dimaksud Pahrul dan Alix adalah sebuah kebun seluas kurang lebih 2 hektare yang dibentengi sawah dan pohon-pohon menjulang ke langit. Tadinya lahan ini adalah kebun dan kolam pancing yang tidak tertata. GenPi Lombok-Sumbawa bersama tim Desa Wisata Hijau Bilebante, merevitalisasi tempat ini menjadi destinasi digital dengan pemandangan 360 derajat layak swafoto. Menuju ke lokasi bahkan harus melalui pematang sawah yang telah dimodifikasi menjadi titik-titik instagramable. Itu memang roh dari destinasi digital yang menjadi salah satu program khusus Kementrian Pariwisata ini.

Diresmikan pada 26 November 2017, ide awal lokasi memang menyerap konsep pasar tradisional yang instagrammable. Pasar ini menggandeng kurang lebih 20 pedagang yang menjajakan kuliner tradisional khas Lombok dan penyedia atraksi bagi pengunjung. Seluruh pedagang kuliner adalah para ibu yang dikordinir Koperasi Wanita Putri Rinjani.

Disebut Pasar Pancingan karena akar daya tarik destinasi digital ini adalah memancing. Hasil pancingan bisa dibawa pulang atau dimasak di tempat. Selain memancing, kegiatan lain yang bisa dilakukan pengunjung adalah memanah, sewa sepeda, berperahu dan gebug bantal untuk anak-anak di atas kolam.

“Sebelumnya, tak pernah kami bayangkan seorang menteri atau selebriti ibukota akan berkunjung ke desa kami. Tak pernah….” Alix lalu melanjutkan kalimatnya, “Berkat adanya Pasar Pancingan ini, desa kami dikunjungi Menteri Pariwisata Arief Yahya awal Juli lalu. Bahkan artis yang hanya kami lihat di televisi seperti Gracia Indri, singgah juga ke sini. Luar biasa rasanya bisa melihat mereka secara langsung dari dekat.” Alix tersenyum bangga. Sejak berkenalan dengan GenPi, dia sering diajak ikut event-event GenPi di Lombok dan Sumbawa.

Pahrul balas berujar, “Kami didampingi GenPI Lombok-Sumbawa untuk pengoperasian Pasar Pancingan. Terutama untuk perencanaan spot foto, maintenance dan promosi. Kegiatan kami di media sosial diboosting oleh jaringan GenPi seluruh Indonesia.”

Saya tak menyangka di sini terjadi transformasi promosi secara luar jaringan (offline) menjadi serba digital begitu cepatnya.

Saya menebar pandangan ke sekeliling, mencoba meraba atmosfer pasar tradional—namun kekinian—yang terasa begitu kental. Di sini, deretan warung dari bambu dan bahkan para ibu penjaja kuliner menyajikan obyek visual layak rekam berbagai versi kamera. Daftar kulinernya cukup seksi: diantaranya sate khas Bilebante, serabi, lupis, bakso rumput laut, nasi ebatan dan nasi lindu. Seluruh kuliner ditempatkan dalam wadah-wadah tembikar atau tampah bambu dan disajikan dengan daun pisang atau ingke (piring dari anyaman lidi). Setiap warung diberi signage/penanda nama berupa tampah bambu yang diberi teks. Ini mengingatkan saya pada Quan An Ngon, Pusat kuliner tradisional Vietnam yang disajikan dalam satu pusat jajan ala foodcourt berkonsep lokal-modern di Hanoi, Vietnam.

Bangku-bangku bambu dipenuhi pengunjung yang baru pulang bersepeda, olahraga, atau memang sengaja berswafoto di sini. Di salah satu sudut, panggung dengan dekor bambu dan penanda Pasar Pancingan mencuat mencuri pusat perhatian. Caping-caping dicat aneka warna menggantung menjadi latar langit-langit pasar, berbagi ruang dengan daun-daun pepohonan. Seluruh ornamen menggunakan bahan-bahan dari alam yang terdapat di Bilebante. Pasar Pancingan diperlakukan bak laboratorium seni raksasa. Modifikasi ban bekas disepuh warna, ukiran bambu, perkawinanan kayu dan tampah bambu serta rakitan akar-akar yang artistik adalah dekor yang mendominasi pandangan. Tepas-tepas bambu berdiri sebagai backdrop swafoto dengan beragam properti foto khas pedesaan. Seandainya pasar tradisional di luar sana tampil dengan potret memukau dan kreatif seperti ini, tentu akan mengubah representasi konsep pasar selama ini.

Pahrul dan Alix memandang saya dengan geli saat saya mencoba nasi lindu. Belut bukan menu yang tertera dalam portfolio kuliner wajib coba versi saya. Namun di pasar ini, para ibu pedagang menyulap belut—yang memang masakan khas Lombok—menjadi produk olahan adiluhung yang sukses mengalihkan persepsi saya akan belut. Lindung yang renyah berpadu dengan asam dan pedas yang pelan-pelan terasa meledak di ujung lidah. Saya meneguk kelapa muda yang dihidangkan Alix dalam gelas bambu, untuk sedikit menetralisir rasa. Alix juga menyajikan sepiring singkong goreng “hasil berkebun” saat bersepeda tadi.

“Sebelum gempa, kami menerima kunjungan 2000 hingga 2500 orang per bulan. Setelah gempa, menjadi sekitar 1600-an orang per bulan, Mungkin orang-orang masih takut beraktivitas,” kata Alix sambil meneguk kopinya, lalu lanjut berujar penuh gelora walau terdengar sedikit tercekat,”Tapi….Kami tidak gentar. Kami akan bangkit setelah gempa…,” Alix berhenti bicara sejenak. Lalu melanjutkan kata-katanya, “Dengan keberadaan Pasar Pancingan, kami mendapat pelatihan media sosial dari GenPi, mendapat atensi juga dari pusat… Dari Kementrian Pariwisata kami diberi pelatihan homestay, pengelolaan desa wisata, juga penyusunan paket wisata. Itu tidak akan sia-sia…Kami akan survive!”

Kami terus berbincang sambil meredam lelah setelah bersepeda. Kerumunan pengunjung semakin padat. Sorakan riang terdengar dari salah satu pemancing yang berhasil mengail ikan besar. Senyum lebar anak-anak milenial dengan berbagai pose berdiri di depan beragam latar. Kelompok desa wisata ini kemungkinan besar masih akan bermetamorfosis pada layer yang berbeda. Saya melihat harapan besar dari binar-binar mata Pahrul dan Alix, untuk menjadi tuan rumah di desanya sendiri.

Foto-Foto: Dokumentasi pribadi dan DWH/POKDARWIS Desa Bilebante/Abdul Alix

Tips:

Pasar Pancingan:

  • Desa Bilebante terletak 16 km sebelah Timur Kota Mataram, dengan jarak tempuh ±45 menit dari Kota Mataram dan 30 menit dari Bandara di Praya.
  • Pasar Pancingan buka setiap hari minggu, mulai pukul 07.00 – 11.00.
  • Follow Instagram @Pasarpancingan dan hashtag #PasarPancingan #Ourbilebante untuk update terbaru
  • Tema Pasar Pancingan berbeda setiap minggu dan selalu ada bintang tamu.
  • Uang Rupiah harus ditukar di Reception Pasar Pancingan dengan pecahan kepeng (bahasa Sasak: uang) mata uang Pasar Pancingan .

Bersepeda di Desa Bilebante:

  • Follow Facebook page Bilebante bike tour dan hashtag #OurBilebante dan #PasarPancingan untuk update terbaru.
  • Ada 3 paket wisata bersepeda. Rute pendek, menengah dan panjang (Adventure). Seluruh paket termasuk guide, sepeda, helm, air mineral, pijat tradisional, homestay, makan siang/malam, foto (dengan drone dan/atau kamera DSLR), air kelapa atau kopi serta kudapan lokal. Paket tour bisa customize. Khusus hari Minggu, Paket bersepeda digabungkan dengan kunjungan ke Pasar Pancingan.
  • Apabila group bersepeda lebih dari 13 orang, harus memesan terlebih dahulu.
  • Makan siang/makan malam harap dipesan maksimal satu hari sebelumnya, terutama untuk group besar.

Highlight Bersepeda di Bilebante:

  • Bersepeda menyusuri persawahan dan kebun masyarakat.
  • Melihat aktivitas masyarakat sekitar dalam memanfaatkan hasil kebun dan sawah.
  • Mengunjungi kelompok perempuan membuat ingke dan kesemat.
  • Menikmati dan uji kemampuan memainkan instrumen yang digunakan untuk bale ganjur.
  • Mengunjungi sentra oleh-oleh makanan olahan khas Bilebante.
  • Mempelajari kehidupan masyarakat Desa Bilebante dengan berinteraksi langsung di jalur sepeda.

Kontak lebih lanjut:

Kelompok Desa Wisata Hijau Bilebante/Pokdarwis Desa Bilebante

Pahrul Azim 0818 0360 6619

Abdul Alix 0819 0798 8831