July 9

Tiba di Mekah dengan perjalanan panjang dari Madinah, (pengalaman umroh di Madinah bisa dibaca di sini) kami check in dan memasukkan koper ke kamar. Lalu kami makan malam dilanjut salat isya di hotel. Setelah ini, umroh akan dimulai. Ada banyak kelebihan melakukan umroh pada malam hari (tepatnya, dini hari buat kami). Selain tidak panas dan tidak terlalu ramai, jarak waktu tidak terlalu lama sejak Miqat di Bir Ali. Rangkaian ibadah umroh harus dilakukan dalam keadaan wudhu, menutup aurat dan bebas najis.

Perjalanan kami menuju Mekah termasuk lancar. Menurut info ustaz yang mendampingi group kami, biasanya di Bir Ali antrean panjang mengular, dan kemacetan pada beberapa ruas jalan menuju Mekah. Tapi syukurnya perjalanan kami hari itu adem ayem lancar jaya.

Saat ibadah umroh, semua printilan pengenal seperti name tag, syal dan mukena yang diberikan Travel agent penyelenggara umroh wajib digunakan agar mudah dikenali jika terpisah dari rombongan. Ustaz kami mewanti-wanti agar tetap bersama rombongan.

Ritual umroh pertama adalah tawaf, berjalan tujuh kali melawan arah jarum jam mengelilingi kabah. Kami memulai tawaf pukul 00.30 dinihari. Di Mekah waktu seperti tidak ada siang dan malam. Sudah dini hari seperti ini ramainya masih ampun-ampunan. Cahaya lampu juga terang benderang. Kata ustaz kami, keramaian yang kami lihat saat ini sudah agak mereda dari biasanya.

Tawaf dimulai dari tempat yang sejajar dengan Hajar Aswad, lalu melambaikan tangan dan gerakan mencium tangan kearah Hajar Aswad. Mencium Hajar Aswad adalah Sunah. Jika tidak mungkin, melambaikan tangan dengan gerakan mencium ke arah Hajar Aswad sudah cukup. Posisi Kabah harus terus di sebelah kiri selama Tawaf. Selama Tawaf, ustaz kami memandu membaca doa-doa.

Masjidil Haram saat dinihari

Menuju Kabah di Masjidil Haram

Panorama sekitar Kabah

Dari beberapa literatur yang saya baca, makna tawaf sangat beragam, beberapa diantaranya adalah selain ritual ini dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail dan juga dicontohkan Rasulullah SAW; tawaf juga bermakna mendekatkan diri pada Allah SWT dan merupakan symbol persatuan umat Islam yang berjalan bersama-sama berserah diri menuju Tuhan.

Saya sebenarnya agak takut ketika akan Tawaf. Saya suka nervous berada di keramaian yang padat berdesak-desakan. Jika ada yang jatuh, tersenggol atau berhenti bergerak, tentu sangat membahayakan jamaah lain yang sangat padat dan terus bergerak. Saat mulai memasuki areal  Tawaf, saya sempat sesak nafas menyaksikan padatnya umat yang sedang berserah diri melakukan Tawaf.

Rasa takut itu sedikit pudar ketika memasuki bagian tawaf di sekitar Kabah di Masjidil Haram. Kabah yang selama ini hanya saya lihat melalui foto, video dan sajadah; terpampang nyata di depan saya. Perasaan saya campur aduk. Terharu sekaligus senang. Gak nyangka bisa sampai di tempat ini. Rasa takut saya juga pudar karena keluarga saya melindungi dan memegang tangan saya di sebelah kanan dan kiri saya.

Saat itu jamaah sedang banyak-banyaknya yang melakukan Tawaf. Tapi herannya, di sekitar kami selalu ada space kosong yang tidak diisi jamah lain yang juga Tawaf. Padahal di bagian depan dan belakang kami sangat padat jamaah lain. Sepertinya Tuhan mendengar doa manusia penakut di keramaian berdesak-desakan kayak saya.

Selesai Tawaf, kami dipandu untuk membaca doa-doa dan salat sunat. Rasanya gimana gitu, salat langsung menghadap Kabah yang berdiri agung di depan mata. Selama Tawaf dan setelah salat sunat tawaf, mumpung di sini semua akan diberi waktu untuk membacakan doa-doa pribadi. Pastinya dengan harapan akan di-ijabah.

Ritual setelah Tawaf adalah Sa’I, yaitu berjalan antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Kedua bukit ini letaknya tidak jauh dari Kabah. Jarak antara Bukit Safa dan Marwah sekitar 450 meter, tinggal dikalikan tujuh untuk menghitung jarak yang harus ditempuh.

Sa’I menurut saya adalah ritual yang sangat dalam maknanya. Pada bagian yang diberi tanda lampu hijau, jamaah laki-laki harus berlari-lari kecil. Sementara jamaah perempuan tetap berjalan biasa. Beberapa kali saya melihat ABG laki-laki sambil tertawa membaca doa, dan saling berlomba lari saat sa’i. Selama ibadah kami terus didampingi ustaz yang memandu bacaan doa dan apa yang harus dilakukan.

Space di sekitar kami kosong tidak diisi jamaah lain pada saat sa’i. Padahal kalau melihat ke arah depan, kerumunan jamaah berpakaian putih-putih sangat padat dan ramai.

Entah kenapa, atmosfer sa’I seru banget. Berbeda dengan tawaf yang dilakukan sangat khusyu dan syahdu, saat sa’I sepertinya semua jamaah sambil senyum, tertawa, melafazkan doa sambil sesekali mengobrol dengan groupnya masing-masing. Seru!

Suasana Sa'i - Seru banget! Lihat padatnya jamaah di bagian depan

Sa’I sendiri dilakukan untuk memperingati pengorbanan Siti Hajar (istri Nabi Ibrahim AS) ketika mencari air untuk anak mereka, Nabi Ismail yang saat itu masih kecil sedang kehausan. Di bawah terik matahari dan cuaca padang pasir yang kering dan panas, Siti Hajar berjalan bolak-balik tujuh kali antara Safa dan Marwah mencari sumber air. Saat itulah ditemukan sumber mata air zam-zam yang berada tidak jauh dari Kabah. Dari berbagai bacaan yang saya baca, ada dua versi ditemukan sumber mata air zam-zam saat itu: yaitu Nabi Ismail AS yang “menunjukkan” sumber air tersebut dengan mengaiskan tanah di bagian sumber air, dan Malaikat Jibril yang turun menunjukkan sumber air tersebut pada Siti Hajar.

Intinya buat saya, makna sa’I sangat dalam karena memperingati pengorbanan seorang ibu dan menjadi jalan ditemukannya sumber air zam-zam.

Arena sa’I sangat nyaman dengan pendingin ruangan, fan, dan lantai marmer. Di sisi kiri terdapat kran-kran air zam-zam yang bisa kita minum kapan saja. Bayangkan saja bagaimana dulu Siti Hajar di bawah terik matahari yang panas dan tentu saja areal berbatu dan pasir bolak-balik antara Safa dan Marwah.

Langit-langit salah satu lantai di Masjidil Haram

Free flow air zam-zam di mana-mana!

Setelah selesai ritual umroh, diakhiri dengan tahalul. Untuk perempuan bagian rambut digunting sedikit saja sebagai syarat tahalul. Harus dilakukan oleh suami/saudara laki-laki/bapak. Untuk para laki-laki dilakukan oleh ustaz. Banyak jamaah dari Negara lain melihat kami yang bergerombol melakukan tahalul, minta dicukur oleh ustaz pendamping kami. Tahalul sebaiknya mencukur semua rambut hingga kandas alias botak, atau hanya sedikit saja sebagai syarat. Itu sebabnya banyak laki-laki menjadi botak setelah umroh.

Aktivitas kami lebih banyak di masjidil haram selain melakukan city tour. Hampir semua tempat penuh sesak dengan jamaah yang berdesakan. Sekali lagi, jamaah asal Asia Tenggara cenderung lebih sopan dan tertib. Seperti misalnya di Jabal Al-rahmah, peringatan untuk tidak berdoa, salat, menangis histeris maupun mengusap-usap batu sudah ditulis pada signage di mana-mana. Tapi tetap saja ada jamaah asal non-Asia Tenggara yang melakukan itu. Sehingga suasana menjadi riuh dan hiruk pikuk.

Suasana di luar Masjidil Haram menjelang waktu salat

Suasana di luar Masjidil Haram seusai waktu salat

Suasana esplanade sekitar Masjidil Haram

Tidak lupa jajan-Semua toko dan mall tutup saat waktu salat

Terdampar di GraPARI Makkah karena paket data umroh saya macet

Suasana kota Makkah

Suasana kota Makkah

Suasana kota Makkah-banyak burung

Mural di kota Mekah asik juga ya!

Terowongan Mina dari kejauhan

Mobil es-krim favorit saya sedang parkir di Jabal Al-Rahmah

Jabal Al-Rahmah, tempat berdoa minta jodoh, langgeng dan cinta

Signage peringatan di depan Jabal Al-Rahmah

Menuju puncak Jabal Al-Rahmah, tempat bertemunya Adam dan Hawa

Rumput Fatima-banyak dicari karena khasiatnya untuk mendapat keturunan

Dinamakan Pohon Soekarno karena dulu yang menanam Presiden RI pertama

Sebelum tawaf wada (tawaf perpisahan karena akan meninggalkan kota Mekah), jamaah diperbolehkan melakukan umroh kedua. Bisa untuk diri sendiri maupun orang lain. Baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Kami berbagi tugas untuk “mengumrohkan” anggota keluarga yang sudah tiada. Saya mendapat “tugas” untuk “mengumrohkan” almh ibu.

Suasana di dalam Masjidil Haram menjelang umroh kedua

Setelah selesai umroh kedua, kami bertolak menuju Jeddah untuk one day trip, untuk kemudian melakukan post-umroh tour ke Dubai.

Restoran yang paling diburu orang Indonesia di Jeddah

Mesjid apung di Jeddah

Syukurnya perjalanan kami  semuanya berjalan lancar. Benar kata orang-orang, sekali menginjakkan kaki di sana, kita pasti ingin kembali. Itu juga terjadi pada saya. Ingin rasanya kembali. Saya juga merasa perjalanan ibadah ini seru karena pergi bersama keluarga besar.

Jangan terlalu mendengarkan juga kisah-kisah yang terdengar menakuti-nakuti. Semua aktivitas ibadah dan non-ibadah akan berjalan lancar kalau niat dan hati kita memang tidak “neko-neko”.

Semoga saya kembali ke tanah suci. dan pembaca yang belum akan sampai juga ke sana! Amin!