July 9

Dengan kadar keimanan yang diragukan dan salat yang masih bolong-bolong perlu tambalan akut, saya tentu tidak menyangka mendapat undangan—demikian para muslim menyebutnya—mengunjungi tanah suci Mekah dan Medinah.

Setelah didesak kakak-abang saya agar ikut rombongan keluarga besar kami untuk umroh, akhirnya saya setengah terpaksa (saat itu) mengiyakan dan mulai mengurus keberangkatan. Seluruh keperluan terkait travel agent yang dipilih keluarga kami semuanya diurus oleh keluarga saya di Jakarta. Lain-lain harus saya urus sendiri karena tidak bisa diwakilkan. Seperti memperpanjang paspor yang sudah habis masa berlakunya dengan penuh drama di Kantor Imigrasi Kelas I Mataram, Lombok; yang pengalamannya akan saya share dalam postingan berbeda.

Selesai urusan paspor, peraturan saat ini menegaskan bahwa peserta Haji/Umroh harus disuntik vaksin meningitis dan diterbitkan kartu kuning yang harus dibawa saat umroh. Pengalaman keluarga saya yang bisa suntik vaksin ini di mana saja di Jakarta, membuat saya juga langsung mendatangi salah satu rumah sakit yang cukup besar di Mataram. Ternyata tidak di semua tempat bisa mendapatkan suntik vaksin ini. Setelah heboh cari info sana sini akhirnya dapat informasi untuk suntik meningitis harus dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Mataram. Setelah googling, dan tidak berhasil menghubungi nomor telepon yang ada di internet karena tidak ada yang angkat, akhirnya saya mendatangi langsung kantor tersebut.

Ternyata tidak bisa langsung suntik begitu saja. Untuk mendapatkan suktik vaksin meningitis ini, harus melampirkan foto 4 x 6 sebanyak 1 lembar, fotokopi paspor, fotokopi ktp dan mengisi formulir yang disediakan Kantor Kesehatan Pelabuhan. Karena saya tidak bawa kelengkapan dokumen ini, jadilah saya harus balik lagi besoknya. Itupun nyaris tidak jadi diurus karena salah satu staff minta fotokopi halaman di paspor dengan nama tiga suku kata seperti yang diminta untuk umroh. Saya hanya melampirkan fotokopi data diri di bagian depan paspor. Bukan halaman berisi penambahan nama.

Padahal paspor saya sedang diurus di Jakarta untuk penambahan nama ayah agar menjadi tiga suku kata. Syukurnya ada salah satu staff yang menolong dan meluluskan persyaratan saya, bahwa fotokopi paspor baru yang saya lampirkan sudah cukup, sehingga saya bisa langsung suntik vaksin. Untuk di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Mataram membayar IDR 330k termasuk administrasi dan pendaftaran. Tariff ini bisa berbeda di tiap daerah.

Intinya, pada akhirnya berangkatlah saya ke tanah suci. Kayak mimpi! Prosesnya mengalir begitu saja. Jujur, ini adalah destinasi yang sama sekali tidak terpikir oleh saya. Perjalanan ke tanah suci memang misteri. Harus ada rezeki komplit, yang artinya, rezeki bukan hanya uang, tapi juga waktu dan kesempatan. Punya uang juga belum tentu diberi langkah untuk tiba di tanah suci. Saya berangkat ber-10 dengan keluarga inti, kakak dan abang, saya akhirnya malah menjadi yang paling norak dengan perjalanan ini karena  terlalu excited.

Rute perjalanan umroh kami adalah Jakarta-Madinah-Mekah-Jeddah-Dubai-Jakarta. Saat masuk ke kota-kota di Arab Saudi, tidak ada pemeriksaan kartu kuning vaksin meningitis. Tapi jangan coba-coba untuk tidak suntik. Selain tindakan pencegahan, kita juga tidak tahu akan berhadapan dengan petugas imigrasi seperti apa.

Madinah Airport yang baru

Anda puas dengan pelayanan kami?

Madinah Airport pada pagi hari

Awal Januari 2017 masih musim dingin di Arab Saudi. Penerbangan dari Jakarta-transit di Dubai-lalu ke Madinah dengan Emirates. Kami tiba di hotel di Madinah tepat saat azan shubuh. Suhu sekitar 14⁰C. Masih gelap tapi sudah ramai para jamaah bergerak menuju Masjid Nabawi. Hotel saya dekat sekali dengan pintu 16 Masjid Nabawi. Samar-samar dalam temaram cahaya lampu kota Madinah, saya melihat kota ini bangunannya berupa block-block mirip kota-kota di Eropa Barat.

Madinah mirip kota-kota di Italia!

Suasana kota yang mirip Kota Pisa dan Florence di Italia

Lorong-lorong seperti yang saya lihat di Italia, Perancis dan Belanda

Saat itu tidak keburu untuk sholat berjamaah di Masjid Nabawi. Sehingga kami hanya sholat subuh di hotel dilanjut sarapan. Setelah sarapan, rombongan kami menuju Masjid Nabawi untuk berdoa di Raudah. Pintu No.25 menuju Raudah bagi perempuan dibuka mulai pukul 09.00 pagi. Bagian laki-laki dan perempuan menuju Raudah dibedakan. Menurut informasi, pintu untuk bagian perempuan ke Raudah dibuka pagi jam 09.00 dan malam selepas salat isya.

Jika sudah berada di Madinah, harus banget untuk bisa mencapai Raudah. Segala daya upaya harus diusahakan agar bisa sampai di sini. Kalau tidak rugi banget. Tempat yang disediakan untuk perempuan memang kecil, dan “saingan” kita jamaah seluruh dunia yang juga berniat sampai di Raudah.

Raudah adalah bagian taman antara mihrab dan rumah yang juga sebagai makam Rasulullah SAW. Di situ juga terdapat dua makam sahabat rasul, Abu Bakar AS dan Umar Ibn Al-khattab. Karena  perluasan Masjid Nabawi, Raudah menjadi bagian di dalam Masjid Nabawi. Tempat ini ditandai dengan karpet berwarna hijau yang sudah pudar warnanya. Berbeda dengan bagian lain Masjid Nabawi yang berkarpet merah dan masih kinclong. Disebutkan di sini adalah salah satu tempat berdoa paling mustajab.

Nah, antrian masuk ke Raudah ini masya Allah…jauuuhh banget dan panjaaaaang. Tapi karena antrinya sudah berada dalam komplek Masjid Nabawi yang indah dan luar biasa sejuk, jadi gak berasa. Oh ya, untuk masuk ke Masjid Nabawi, jangan coba-coba bawa kamera apalagi kamera DSLR dengan lensa tele superpanjang dan besar. Gak bakalan diizinkan masuk oleh askar (penjaga masjid) perempuan yang menjaga di tiap pintu masuk.

Langit-langit Mesjid Nabawi Madinah

Menuju Raudah

Antre masuk ke Raudah

Langit-langit Raudah

Setiap akan masuk ke dalam kompleks Masjid Nabawi, tas kita akan diperiksa dengan detil oleh para askar perempuan ini. Sedangkan smartphone dengan kamera masih diperbolehkan masuk.

Sudah ada sekelompok askar yang mengatur kelompok-kelompok jamaah yang akan masuk ke bagian Raudah. Jamaah dari Asia Tenggara seperti Indonesia atau Malaysia biasanya tertib. Tapi ampun deh jamaah dari India, Bangladesh dan Pakistan itu yang susah diatur. Mana badannya besar-besar banget. Kebayang kan kalau senggolan sama mereka.

Akhirnya tiba giliran group kami. Askar sudah membagi kelompok-kelompok yang akan masuk ke dalam Raudah agar proses doa dan ibadah berjalan tertib. Setiap group diberi waktu maksimal 10 menit untuk berdoa dan salat untuk memberikan kesempatan pada tiap kelompok dalam antrian superpanjang itu.

Saya sudah diwanti-wanti oleh kakak-kakak saya yang sudah pernah umroh untuk melihat bagian karpet yang berwarna hijau.

“Lihat bagian dengan karpet berwarna hijau. Kalau sudah tiba di areal itu, artinya sudah berada di bagian Raudah. Di situ langsung  berdoa dan salat sunat. Kalau salat biarpun berlama-lama tidak mungkin diusir askar. Kalau dilihat hanya berdoa, jika sudah kelamaan bakal disuruh keluar,” salah satu kakak saya membagi tips.

Begitu masuk ke bagian menuju Raudah, arsitekturnya sudah berbeda dengan bagian lain di Masjid Nabawi. Saya sempat deg-degan begitu bergabung dengan jamaah lain yang berdesakan di dalam Raudah. Ramai. Penuh dengan orang-orang yang terisak, berdoa, dan salat. Banyak jamaah bertingkah laku sedikit lebay. Ada yang sampai menangis histeris sambil memeluk dan mencium pilar-pilar yang ada di Raudah. Di Madinah dan Mekah, tingkah laku mengarah pada syirik/musyrik biasanya bakal kena teguran para askar. Tugas para askar sangat berat. Kebayang menghadapi para jamaah yang bertingkah laku lebay mengarah syirik/musrik yang mayoritas susah diatur.

Berkat bantuan kakak-kakak saya, akhirnya saya bisa salat dan berdoa lama di Raudah. Mereka membuat lingkaran agar kami bisa saling bergantian salat dan berdoa. Di sini suasana riuh sekali. Jamaah yang sangat banyak itu saling dorong berebut tempat untuk bisa berdoa dan salat. Padahal kalau teratur tentu semua bias mendapat bagian. Saran saya, tempat terbaik adalah menuju bagian depan yang diberi pembatas. Di sini agak sepi karena sebagian besar jamaah fokus pada tempat terdekat dengan makam Rasul.

Kakak saya cerita, waktu membawa almh. Ibu saya umroh, diberi banyak kemudahan, bahkan bisa salat dan berdoa dengan sangat lama di Raudah. Di sini orang tua dengan kursi roda mendapat perlakuan istimewa luar biasa.

Di Madinah tidak ada ritual khusus wajib umroh. Di sini hanya beribadah, mengunjungi Raudah, dan kunjungan ke masjid-masjid. Bus kami sempat melewati Museum Madinah yang terlihat sangat megah. Sayang sekali tidak ada kunjungan ke museum itu dalam itinerary kami. Letaknya yang agak jauh dari pusat kota membuat saya tidak mungkin ke situ seorang diri.

Suasana kota Madinah

Suasana kota Madinah

Suasana kota Madinah

Toko-toko tutup dan barang dagangan dibiarkan di luar

Para pemburu kurma

Itinerary kami hanya mengunjungi dan salat di Masjid Quba─Masjid pertama yang dibangun Rasul di Madinah, melihat lokasi pertempuran perang Uhud ke Jabal Uhud, dan berkunjung ke Perkebunan Kurma. Yang disebut dengan perkebunan kurma ini ternyata jauh dari bayangan saya. Bayangan saya benar-benar berupa perkebunan luas  dengan contoh-contoh pohon berbagai jenis kurma yang berbeda. Ternyata perkebunan kurma yang dimaksud  berupa sebidang tanah kecil dengan contoh beberapa pohon kurma, serta sebuah gedung tempat para ibu akan kalap belanja kurma, berbagai jenis kacang dan cokelat.

Jika ingin membeli kurma, Madinah lah tempatnya. Bukan di Mekah. Terdapat berbagai jenis kurma bahkan dari jenis yang tidak pernah dijual di Indonesia ada di sini.

Menuju Masjid Quba

Langit-langit Masjid Quba

Bagian luar Masjid Quba

Suasana di sekitar Jabal Uhud

"Kebun" kurma, seperti melihat kebun kelapa sawit

Pohon kurma

Di Indonesia atau Arab Saudi, sama-sama demam batu

Ibu-ibu kalap lihat cokelat

Mereka yang kalap melihat kurma

Di Madinah, para pedagang lokal maupun pekerja imigran banyak yang lancar berbahasa Indonesia. Para askar juga banyak yang berasal dari Indonesia, terutama dari daerah-daerah di Jawa Barat. Para askar perempuan non-Indonesia juga banyak yang bisa berkomunikasi bahasa Indonesia.

Untuk suasana, saya lebih suka kota Madinah daripada Mekah. Madinah lebih sejuk, tenang, syahdu. Orang-orangnya tertib dan ramah-ramah. Pantas saja Rasulullah pindah ke kota ini daripada menghadapi penduduk Mekah yang relatif karakternya lebih keras daripada Madinah. Suasana kotanya mengingatkan saya pada Kota Florence di Italia. Susunan bangunan megah dan tinggi dengan model block-block yang rapi membuat aura kota ini seperti di Eropa Barat.

Mau menelepon siapa? :D

Bagian luar Masjid Nabawi Madinah

Masjid Nabawi tidak pernah sepi

Setelah salat, jamaah yang berjalan keluar Masjid Nabawi

Air zam-zam-Free flow di mana-mana!

Dan.. ya ampuuunn… jajanan di kota Madinah seru banget! Hampir di setiap toko yang mirip mini market itu rasanya ingin singgah dan jajan hore melihat roti, snack, buah segar dan minuman yang berwarna-warni.

Siapa yang tahan melihat jajanan seperti ini?

Semua ingin dimakan

Terlalu sayang untuk dilewatkan

Semua masih hangat

Tapi untuk perasaan Majesty, jelas Mekah lebih menimbulkan rasa itu. Sebagai kota yang menampung lebih banyak jamaah dari seluruh dunia dan merupakan tempat penting karena adanya Masjidil Haram.

Madinah seperti kota-kota besar lain pada umumnya. Ada mall dengan berbagai tenant bermerk seperti di Jakarta, lengkap dengan Mc Donald dan KFC. Sayang banget saya gak sempet motret Mc Donald karena sudah terlewat saat akan menuju Jabal Uhud.

Sedangkan KFC, karena kami bosan dengan makanan hotel, sekali waktu kami makan di KFC karena dekat dengan Masjid Nabawi dan hotel kami. Tempat antri pemesanan dipisah/diberi pembatas antara bagian perempuan dan laki-laki. Setiap meja makan diberi tirai-tirai pembatas seperti dalam kamar-kamar. Sehingga kita tidak dapat melihat siapa yang sedang makan di balik tirai itu. Porsinya? Jangan ditanya. Porsi sekali makan orang Arab sama dengan porsi makan saya selama 3 hari. Saya memesan paket “terkecil”, tapi yang saya dapat ayam berukuran seekor. Minumannya pepsi dalam cup plastik besar. Saya seperti minum dari ember saking besarnya ukuran cup minumannya. Saya sudah tidak ingat kapan terakhir kali saya minum minuman bersoda. Lah kok ya malah di Madinah saya minum minuman bersoda lagi.

Kami juga sempat mencoba makan di restoran Indonesia di sekitar Masjid Nabawi karena masih bosan dengan makanan di hotel. Di sini seperti di kampung sendiri. Sebagian stafnya malah berbahasa Sunda. Selain makanan Arab, ada bakso dan masakan khas Indonesia lain. Keluarga saya makan bakso dan nasi campur, saya memesan makarona─sejenis macaroni khas Arab yang bentuknya malah mirip penne (pasta), dicampur daging kambing, mozzarella dan susu.

Kantin Indonesia di Madinah

Kantin Indonesia di Madinah-staffnya berbahasa Sunda euy!

Masakan di kantin Indonesia-ukuran ikannya superbesar

Makarona yang saya pesan

Perjalanan kami di Madinah diakhiri dengan Miqat. Miqat adalah ritual mengambil niat umroh sebelum melakukan ibadah umrah. Miqat adalah batas tempat dan waktu bagi orang yang akan melaksanakan haji/umrah sebelum mumlai ihram.

Ada tempat-tempat khusus untuk mengambil Miqat, tidak di sembarang tempat. Tempat Miqat yang dekat dengan Madinah adalah Bir Ali. Bir Ali adalah nama masjid. Di sini kita, berwudhu, salat sunat umroh dan mengambil niat umroh. Diusahakan untuk selalu menjaga wudhu setelahnya. Untuk laki-laki sudah mulai memakai ihram. Setelah salat dan mengambil niat umroh, larangan ihram sudah mulai berlaku.

Masjid Bir Ali

Menuju bagian dalam Bir Ali

Di Bir Ali, ada pengalaman tak terlupakan. Saya melihat seorang ibu mirip banget dengan almarhumah ibu saya. Senyumnya, cara jalannya, postur tubuh dan tinggi badannya. Ibu itu masuk saat saya akan keluar. Saya cuma bisa terpana memandang ibu itu yang sedetik pun tidak sadar kalau saya tatap terus. Seperti blank, tanpa sadar sosok ibu itu menghilang di antara rombongan para ibu yang memasuki bagian Masjid Bir Ali. Mudah-mudahan saja itu pertanda, ibunda saya bahagia melihat saya nyampe di tanah suci.

Setelah semua ritual selesai di Bir Ali, kami bertolak via darat menuju Mekah. Perasaan syahdu lebih terasa karena jamaah sudah memakai pakaian putih-putih dan para laki-laki sudah memakai ihram.

Panorama menuju Kota Mekah

Jarak Madinah – Mekah sekitar 450-an km ditempuh dalam waktu 6 jam via darat, dengan kondisi jalan yang luar biasa bagus. Saya merasa sedikit tegang campur nervous karena sudah berniat umroh, berpakaian putih-putih dan sudah diwanti-wanti menjaga “kebersihan” diri, hati, jiwa, dan pikiran.

Ternyata sulit.

Untuk pengalaman umroh di Mekah bisa baca di sini.

Barang-barang yang saya siapkan:

  • Sandal jepit atau sandal/sepatu yang mudah dilepas karena harus bolak-balik ke masjid
  • Sajadah kecil. Jaga-jaga di Masjidil Haram manatau mendapat bagian salat yang tidak beralas karpet
  • Mukena/telekung
  • Al-qur’an tidak perlu bawa karena banyak sekali di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram
  • Gunting kuku
  • Gunting untuk tahalul (baca di bagian Mekah)
  • Kaus kaki
  • Lip balm (perubahan cuaca sangat signifikan, terutama jika pergi saat musim dingin)
  • Dokter kulit saya malah menyarankan membeli lotion Crème 21 dan Vaseline (bukan endorse) di Madinah atau Mekah saja. Kulit akan kering dan biasanya pelembab dari Indonesia kurang cocok dipakai di sana.
  • Vitamin. Perubahan cuaca dan jadwal tidur yang tidak teratur akan membuat gampang sakit. Saya membawa Ester C dan Astin Force (bukan endorse).

Dokumen perjalanan

  • Paspor dengan nama yang terdiri dari tiga suku kata. Untuk nama saya yang hanya terdiri dari dua kata, harus dilakukan penambahan nama ayah di  imigrasi setempat. Aturan dan lama proses tiap imigrasi berbeda-beda untuk penambahan nama ini.
  • Keluarga kami tidak mau repot. Itu sebabnya kami memilih pergi dengan Travel Agent yang akan mengurus semua hal. Untuk visa biasanya akan diurus oleh travel agent. Travel agent yang mengatur perjalanan umroh/haji biasanya badan resmi berizin di Indonesia yang sudah ditunjuk pemerintah Arab Saudi untuk mengurus perjalanan umroh/haji. Hati-hati dalam memilih travel agent. Kredibiltas dan track record sangat penting agar tidak terkena jebakan travel agent penyelenggara umroh bodong.
  • Untuk perempuan di bawah 45 tahun sebetulnya tidak bisa melakukan perjalanan seorang diri, harus didampingi mahram dan membayar uang mahram. Mahram bisa suami, saudara laki-laki, bapak/paman. Keterangan mengenai mahram ada di visa.
  • Travel agent penyelenggara umroh biasanya menyiapkan koper yang seragam untuk jamaah groupnya. Koper tersebut berisi name tag, itinerary dan daftar peserta, panduan doa selama umroh, tas sandang, syal pengenal, mukena, pin. Setiap group akan didampingi ustaz sehingga tidak perlu khawatir jika tidak tahu doa-doa yang harus dibaca saat melaksanakan umroh.
  • Sebelum perjalanan biasanya ada manasik dan pertemuan informasi. Sebelum berangkat ke Mekah juga akan ada briefing dan tausiah menjelang umroh agar jamaah bisa mempersiapkan diri dalam pelaksanaan umroh.