April 2

Teks oleh: Mantara

Mantara, anak muda asli Sembalun, Lombok; penggemar berat novel-novel Andrea Hirata. Saat ini tengah menyelesaikan studinya di Akademi Maritim Cirebon. Mantara salah satu peserta yang ikut kelas menulis yang dimentori oleh Wiwik Mahdayani di Lombok. Tulisan ini adalah karya pertama Mantara.

Foto-foto adalah salah satu jalur bersepeda di Sembalun.

Sembalun, dataran tinggi di wilayah Lombok Timur, menyimpan keindahan alam dibalut dengan aneka ragam wisata petualangan. Berada di ketinggian 1.200 m dpl, membuat Sembalun  kaya akan daya tarik dan keunikan.

Bagi pemikat olahraga sepeda,  kawasan Sembalun merupakan salah satu kawasan strategis. Sembalun memiliki sejumlah trek yang menantang mulai dari uphill, downhill, offroad, hingga on-road. Setidaknya ada tujuh trek, salah satunya adalah jalur yang cocok bagi keluarga untuk gowes santai sambil berwisata mengelilingi kawasan pedesaan di Sembalun.

Suatu kali, saya beserta tim dari kelompok Geowisata Sembalun mengeksplorasi beberapa track sepeda di Sembalun. Track pertama yang kami jajal berupa hamparan kebun stroberi yang indah dan sejuk. Di sejumlah titik terlihat beberapa petani tengah asik dengan pekerjaannya.

Tidak hanya berkeliling, saya bersama tim Geowisata Sembalun dipersilakan memetik dan merasakan manisnya buah stroberi langsung dari pohonnya.

Keramah-tamahan serta kekeluargaan terasa melekat diantara kami dengan para petani stroberi. Hal itu sudah menjadi tradisi di Sembalun.

Sekitar 3 kilometer dari kebun stroberi, terdapat rimbunan pohon bambu yang ingin kami jelajahi. Hanya dengan menelusuri jalan beraspal, melewati sungai kering disambut dengan senyum sapa warga sekitar, kami tiba di hutan bambu tersebut.

Perasaan saya tak terkatakan saat berdiri di antara pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi  menutup langit serta hamparan dedaunan kering di bawahnya.

Dengan luas sekitar 2 hektar, area hutan bambu tersebut menyajikan keindahan bagi kami. Tidak hanya dijadikan obyek wisata, kawasan hutan bambu tersebut juga merupakan pemasok kebutuhan bambu bagi masyarakat di Sembalun.

Masing-masing hutan bambu dikelola dan dimiliki oleh individu. Meskipun demikian, kita dibebaskan untuk menikmati atau melakukan kegiatan wisata di daerah tersebut selama tidak merusak atau mengambil bambu milik masyarakat.

Selesai mengelilingi hutan bambu kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kawasan desa adat di Sembalun. Desa ini bernama Desa Beleq, merupakan desa pertama dan tertua di kawasan Sembalun. Desa ini diisi 7 rumah tradisional dengan 7 tangga masuk serta memiliki 2 kamar.

Track yang kami lalui menuju Desa Beleq cukup mulus. Dalam perjalanan, kami disuguhkan pemandangan alam hijau berlatar kegagahan Gunung Rinjani. Ladang-ladang pertanian terhampar apik, ditanami sayur-sayuran hijau. Nuansa pedesaan terasa kental terutama saat saya melihat petani melakukan aktivitas mereka dengan cara tradisional.

Setelah puas mengelilingi Desa Beleq, kami melanjutkan perjalanan menuju track berikutnya: Track Kebun Kopi. Walau sudah bermandikan keringat serta nafas yang sudah tak beraturan, kaki kami terus mengayuh sepeda dengan tenaga yang masih tersisa. Keingintahuan membawa kami menjelajahi lebih jauh keunikan kawasan Sembalun sambil menikmati pemandangan  alam  lainnya yang sudah menunggu untuk dikagumi.

Selain hijau pepohonan khas pegunungan, desa ini juga memiliki kekayaan alam lain yaitu perkebunan kopi. Umumnya ada dua jenis kopi yang kita jumpai di kawasan Sembalun; yaitu kopi jenis Arabika dan Robusta. Tidak banyak masyarakat  Sembalun yang menekuni kegiatan menanam kopi. Hanya beberapa warga yang menanam kopi untuk dikonsumsi sendiri dan ada pula yang mengembangkannya untuk dipasarkan.

Perkebunan kopi di Sembalun hanya bisa ditemukan di Desa Sajang, salah satu kawasan bagian utara Kawasan Sembalun yang khusus membudidayakan tanaman kopi, rempah-rempah, serta buah-buahan. Perjalanan bersepeda ini kami akhiri dengan menyesap nikmatnya kopi panas khas Sajang Sembalun.