November 19

*Dimuat Majalah escape! Indonesia Edisi Maret – Mei 2016

Saya berjalan perlahan sambil menatap sekitar dermaga Teluk Kumai, jalur masuk menuju kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) di Kalimantan Tengah. Airnya yang tenang kecokelatan, jajaran kapal-kapal kayu, dan orang-orang yang sibuk lalu lalang, tidak mengurangi pesona kawasan taman nasional yang seolah memiliki magnet menarik wisatawan untuk masuk.

Dessy salah satu pemilik tour operator lokal—Orangutan Applause, menyusul saya di belakang. Dessy menunjuk salah satu kapal kayu yang akan membawa kami menyusuri Sungai Sekonyer dan Sekonyer Kanan untuk memasuki titik-titik yang menjadi destinasi wisata di kawasan TNTP.

KAPAL KELOTOK

Beberapa crew kapal membantu membawa barang-barang kami ke dalam kapal kayu yang disebut kapal Kelotok. Inilah “kapal pesiar” versi lokal. Kapal kayu ini dilengkapi fasilitas tidur dengan selimut tebal yang nyaman dan hangat, lengkap dengan kelambu untuk menghalau nyamuk.

Tidak usah khawatir karena di dalam kapal kelotok juga ada toilet dan wastafel modern. Wisatawan akan disajikan 3 kali makan hasil masakan para chef per harinya di dalam kapal. Kita bisa memilih apakah ingin makan duduk di bawah dengan gelaran karpet atau tikar, atau pun dengan meja dan kursi makan yang disediakan.

Atas permintaan wisatawan domestik seperti kami, kapal kelotok menggelar karpet tempat kami duduk bebas sambil memandang tepian sungai. Baru saja duduk, Dessy sudah menyajikan minuman selamat datang berupa teh panas dan kopi susu.

Pelan-pelan, kapal kami mulai memasuki jalur dengan jajaran tegakan nipah di bagian kiri dan kanan sungai. Warna air di sekitar cokelat pekat karena di hulu pada bagian luar taman nasional, masyarakat melakukan pertambangan emas dan zirkon secara tradisional. Pemandangan seperti ini selalu mengingatkan saya pada Delta Mekong di Vietnam. Kawasan yang dijual sebagai atraksi wisata dengan sampan bertajuk “Ekowisata di Delta Mekong”.

TNTP  tengah naik daun. Hingga November 2015 saja, kawasan taman nasional ini sudah dikunjungi oleh lebih dari 12.000 wisatawan asing dan domestik. Dengan komposisi 73 persen adalah wisatawan asing. Taman nasional yang mendapat status cagar biosfer pada 1977 ini menawarkan atraksi susur sungai dan mengamati orangutan langsung di habitatnya.

Sambil menikmati teh, saya duduk di ujung haluan kapal yang dilengkapi dua bangku kayu berhadapan. Sangat sempurna untuk memulai perjalanan ini.

RUMAH POHON

Kapal kami mulai memasuki jalur sungai yang lebih sempit. Pemandangan nipah di kiri dan kanan tepian sungai sudah berganti. Saya menikmati pemandangan hutan dengan air sungai yang kini berwarna hitam pekat seperti warna kola.  Udara yang tadinya sumuk di sekitar Teluk Kumai mulai berasa sejuk. Inilah pemandangan sungai dengan hutan Kalimantan yang sebenarnya.

Saya berharap bisa melihat bekantan, yang menjadi ikon salah satu taman hiburan di ibukota. Namun ini sudah terlalu siang. Kemungkinan besar semua satwa-satwa luar biasa yang ingin saya lihat sudah masuk ke dalam hutan. Namun saya tidak terlalu kecewa. Satwa liar yang hidup di habitatnya memang tidak bisa diprediksi kapan bisa ditemui oleh “tamu” yang datang ke rumah mereka seperti saya.

Walau begitu, harapan saya tergantikan oleh suasana hutan yang hening, dengan refleksi beragam pohon pada permukaan air sungai hitam pekat yang tenang seperti cermin, menguarkan aura romantis di sepanjang sungai. Bayangkan, saya berada di kapal pesiar mini versi lokal menyaksikan pemandangan ala kartu pos yang tidak mungkin saya lihat setiap hari.

Dessy, Arif, dan Fajar mengusulkan untuk berhenti sejenak di Pondok Ambung. Ini adalah stasiun penelitian tempat para peneliti berlabuh untuk melakukan kegiatan penelitian ekologi hutan hujan tropis dan pendidikan lingkungan. Di sini bukan hanya ada pusat penelitian, tapi juga menara pandang yang disebut Rumah Pohon Pondok Ambung.

Rumah Pohon di Sekitar Stasiun Penelitian Hutan Tropis di Pondok Ambung

Menara ini dibangun oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata pada 2010. Dengan tangga tegak lurus 90 derajat, bergoyang-goyang ketika dinaiki. Tak pelak memanjat menara ini menjadi salah satu kegiatan pacu adrenalin. Menara ini menyajikan pemandangan 360 derajat hutan sekitar Pondok Ambung dari ketinggian. Walau menara itu bergoyang-goyang ketika kami melangkah di atasnya, tidak mengurungkan niat saya mengelilingi menara tersebut untuk mendapatkan seluruh pemandangan pepohonan lebat mencuar ke langit yang mendominasi pandangan di depan.

CAMP LEAKEY

Kami kembali melanjutkan perjalanan yang santai ini menuju orangutan feeding site terjauh, Camp Leakey. Kawasan TNTP ini benar-benar sebuah pelarian dari rutinitas urban yang sibuk dan bikin penat. Saya sendiri setengah terkantuk-kantuk duduk di haluan kapal, masih ditemani hembusan angin dan udara yang sejuk.

Sinar matahari yang semakin meninggi mengubah warna alam di sekitar, berbaur dengan hijau pepohonan yang berbaris rapat di sisi kiri kanan. Tak ada suara apapun kecuali suara mesin kapal kelotok dengan laju perlahan membelah sungai Sekonyer Kanan.

Ketika kapal kami tiba di dermaga Camp Leakey, saya melihat jajaran kapal kelotok lain tengah berlabuh. Dessy menjelaskan pada musim liburan akhir tahun seperti ini memang ramai pengunjung. Menuju ke lokasi pemberian makan orangutan, kami berjalan melalui boardwalk yang kemudian dilanjutkan dengan jalan setapak yang rata dan sangat mudah dilalui.

Jalan Setapak Menuju Orangutan Feeding Site di Camp Leakey

Camp Leakey yang berada di kawasan hutan primer mungkin tidak bisa dipisahkan sebagai bagian sejarah di TNTP, dengan pendirinya Prof. Biruté Galdikas. Pertama dibangun pada 1971 hingga akhirnya sekarang menjadi basis penelitian bagi para peneliti, staff, serta mahasiswa yang menyelesaikan studi tentang satwa hingga penelitian ekologi. Wisatawan tidak diizinkan untuk menginap di kawasan ini.

Saya tidak bisa membayangkan ketika pertama kali Prof. Biruté Galdikas datang ke daerah ini untuk meneliti orangutan. Situasi saat itu yang sangat minim fasilitas tentu berbeda dengan meneliti dalam kondisi seperti sekarang. Saat ini beliau memimpin OFI yang fokus kegiatannya adalah rehabilitasi dan konservasi orangutan; dengan membidani orangutan feeding site di TNTP yang dikunjungi wisatawan—Camp Leakey, Pondok Tanggui, dan Tanjung Harapan.

BERTEMU ORANGUTAN

Jalan setapak di tengah hutan yang kami lalui bermuara pada bagian berbentuk seperti lapangan kecil dengan “panggung kayu” tempat orangutan yang diberi makan berkumpul. Lebatnya pepohonan di sekitarnya menjulang ke langit menjadi latar panggung.

Panggung kayu itu diberi pembatas yang tidak boleh dilewati. Hal ini untuk menjaga jarak aman dengan wisatawan yang ingin mengamati pemberian makan orangutan. Saat kami tiba, sekelompok wisatawan domestik tengah berbaur dengan wisatawan asing. Suasana sedikit riuh. Dalam musim ramai pengunjung seperti ini, lahan dengan luas terbatas itu menjadi penuh hanya oleh dua group wisatawan saja.

Ada sekitar 7 ekor orangutan yang menampakkan diri di panggung kayu tersebut. Hampir seluruh wisatawan yang ada di situ sibuk memotret momen yang langka bagi mereka. Selain di panggung, beberapa orangutan muncul bergelantungan menyeruak di antara pepohonan, dan turun di belakang kerumunan wisatawan. Beberapa wisatawan asing lantas bergerak memotret dengan tetap menjaga jarak aman. Salah satu orangutan yang duduk bergaya di atas rebahan batang kayu itu tampaknya sudah terbiasa melakukan atraksi “siap dipotret”. Tidak terlihat rasa takut sedikitpun. Kami wisatawan yang berkumpul membawa kamera masing-masing seperti menyaksikan bintang populer yang tengah manggung. Kami semua duduk mengamati orangutan yang berjalan ke sana kemari, naik turun, dan bergelantungan di pohon hingga sore hari. Sungguh suatu keberuntungan bisa menyaksikan satwa di habitat alaminya.

Orangutan Turun dari Pepohonan dan Berdiri di Belakang Kerumunan Wisatawan di Camp Leakey

Mengamati Orangutan yang Bergelantungan di Pohon di Camp Leakey

Fajar Dewantoro mengajak mampir ke pusat informasi yang dibangun OFI. Bangunan pusat informasi ini cukup sederhana, namun menyajikan display informasi yang cukup memberikan pemahaman pada wisatawan tentang Camp Leakey serta satwa yang hidup di TNTP. Terlebih lagi pusat informasi saat ini digawangi staff yang cukup informatif. Bagi kawasan konservasi yang membuka pintu kawasannya untuk pariwisata, visitor center atau pusat informasi adalah kunci untuk memberikan pemahaman pada wisatawan tentang kepentingan kawasan yang dikunjungi.

TOM

Fajar dan Arif bercerita tentang Tom, “penguasa” Camp Leakey pada saya. Orangutan rehabilitasi di sini punya rumus huruf pertama namanya harus merujuk pada nama ibunya.

Hari sudah agak sore dan kemungkinan kami tidak akan bertemu. Tom sangat sibuk dan tidak setiap hari dia muncul di sini.

Baru saja kami menutup perbincangan dan hendak kembali ke kapal, tiba-tiba sosok orangutan yang baru saja kami ceritakan muncul. Saya dan beberapa wisatawan asing yang ada di situ segera menjaga jarak. Tubuh Tom sangat besar. Dengan berat sekitar 120 kg, saya mungkin terlihat seperti boneka mainan jika berdiri di sampingnya. Tom tidak peduli pada kumpulan manusia yang bersiap dengan kamera masing-masing, sambil menjaga jarak aman menatapnya dengan waspada. Dia bermain di pohon, dan kembali ke tempat semula seolah kami tidak ada di situ.

Dessy tampaknya sudah mengerti kapan harus menghentikan semua aktivitas di sini. Setelah puas mengamati perilaku Tom, dia mengajak kami kembali ke kapal. Dessy, yang lulusan jurusan pariwisata salah satu universitas di Bandung itu menawarkan sesi minum teh dan kopi sore di kapal sebelum kami bersiap-siap untuk makan malam.

Namun sepertinya penghuni Camp Leakey selalu ingin membuat para wisatawan yang datang terkesan dengan mereka. Di tengah boardwalk menuju kapal kelotok ditambatkan, seekor orangutan dengan tubuh yang juga besar tiba-tiba muncul dan duduk di tengah boardwalk. Seolah menanti kami untuk lewat. Mau tidak mau, kami menghentikan langkah. Dessy bercerita bahwa orangutan yang duduk menanti wisatawan lewat di  boardwalk adalah hal biasa. Mereka akan pergi setelah melihat wisatawan hanya berdiri menunggu.

Dihadang Orangutan di Boardwalk, Saat Keluar dari Camp Leakey

Namun itu tidak terjadi pada kami. Melihat orangutan yang duduk menghadang itu sangat sabar menunggu, salah satu crew kapal yang sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini berteriak dan melakukan isyarat pada orangutan itu untuk membiarkan kami lewat. Sore berakhir dengan suara tawa kami memecah kesunyian sepanjang sungai, menceritakan tragedi menyenangkan hari itu dengan duduk di gelaran karpet dalam kapal, sambil menyesap teh dan kopi panas.

Ada hal yang mengejutkan saya dalam perjalanan ini. Yaitu kemampuan memasak para chef di kapal yang kami tumpangi. Masakan yang dihidangkan sepanjang hari hingga malam itu sungguh luar biasa dari segi rasa dan tampilan. Kemungkinan besar karena sudah terbiasa menghadapi para wisatawan asing dan domestik, para juru masak ini cukup tahu masakan yang memanjakan lidah para peserta tour di kapal mereka. Dessy dan Arif benar-benar memilih dengan siapa mereka bekerja sama untuk memberikan pelayanan prima pada para tamu di taman nasional ini.

Bersiap Makan Malam Bersama

Perjalanan kami jelas belum berakhir malam itu. Tempat yang selalu menjadi tujuan kunjungan wisatawan di TNTP selain Camp Leakey adalah pusat rehabilitasi Pondok Tanggui dan Tanjung Harapan. Dua tempat ini yang kami kunjungi keesokan harinya.

DOYOK

Di Pondok Tanggui, lokasi pemberian makan memiliki setting yang serupa dengan di Camp Leakey. Berupa lahan kecil dilengkapi dengan panggung kayu yang diberi pembatas untuk menjaga jarak aman dengan pengunjung. Di Pondok Tanggui juga terdapat menara pandang yang sayangnya tidak bisa dipergunakan. Di lokasi ini, penguasa yang menjadi bintang utama adalah Doyok. Dengan ukuran tubuh lebih kecil daripada Tom. Doyok ikut bergabung dengan orangutan lain di sekitar panggung kayu pagi itu.

Doyok, di Lokasi Orangutan Feeding Site di Pondok Tanggui

Kebetulan Arif dan Fajar juga penyuka fotografi. Pagi itu mereka berdua membawa lensa khusus yang beberapa diantaranya dipinjamkan kepada saya untuk diuji coba. Kegiatan kami sepanjang pagi itu sibuk bertukar lensa dan saling berbagi tip-tip memotret yang beberapa diantaranya langsung saya praktikkan. Kumpulan orangutan di panggung utama Pondok Tanggui menjadi sasaran percobaan lensa-lensa yang saling kami tukar pakai.

Wisatawan Mengamati Orangutan di Pondok Tanggui

Dessy, pemegang kendali dalam perjalanan ini mengingatkan kami untuk segera pindah ke Tanjung Harapan agar saya bisa melihat Visitor Center di sana. Sayangnya, Visitor Center di Tanjung Harapan tidak memuat banyak display dan informasi tentang kawasan TNTP. Saya hanya sebentar berada di Visitor Center ini. Dessy, Arif, dan Fajar lantas mengajak kami untuk melihat lokasi pemberian makan orangutan di tempat tersebut, walaupun waktu pemberian makan berlangsung sore hari.

Kapal kelotok kemudian mengantar kami kembali ke Kumai karena saya akan menginap satu malam di Pangkalan Bun, sebelum bertolak kembali ke Jakarta esok harinya. Dessy menyayangkan kunjungan saya yang singkat karena menurut dia, beberapa tempat di sekitar  kawasan tegakan nipah, menyajikan pemandangan kunang-kunang yang spektakuler pada malam hari.

Tidak mengapa. Saya simpan pemandangan kunang-kunang itu untuk lain kali. Suatu saat saya akan kembali lagi. Menikmati heningnya Sungai Sekonyer Kanan dengan permukaan air hitam pekat laksana cermin, dan menyapa sang penanda kehidupan di salah satu kawasan pelestarian alam termegah ini.

Tip:

  • Mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting harus diawali dengan perencanaan yang baik karena sulit dikunjungi tanpa pemandu. Sebaiknya lakukan reservasi kapal kelotok, pemandu, atau tour sebelum berkunjung.
  • Jam pemberian makan orangutan pada pos pertama di Tanjung Harapan adalah pukul 15.00 dan Pondok Tanggui pukul 09.00. Penyelenggara tour akan mengatur waktu kunjungan dan itinerary di masing-masing feeding site.
  • Harga tiket masuk wisman IDR 150.000/hari/orang. Hari libur wisaman dikenakan IDR 225.000/hari/orang. Harga tiket masuk wisnus IDR 5.000/hari/orang dan hari libur dikenakan IDR 7.500/hari/orang. Harga ticket masuk kapal IDR 100.000. Kamera tidak dikenakan charge. Check selalu tarif masuk terbaru.
  • Tour lokal yang ditawarkan merancang seluruh kegiatan mulai dari kapal kelotok, makan, kunjungan ke pusat rehabilitasi orangutan/orangutan feeding site, pembayaran masuk ke dalam kawasan taman nasional hingga penjemputan ke bandara. Penginapan biasanya termasuk di dalam kapal. Namun dapat juga memesan homestay dan ecolodge di sekitar taman nasional. Tidak ada layanan makan dan minum di dalam kawasan. Semua harus diatur melalui tour atau akomodasi tempat menginap di luar kawasan. Untuk pemesanan paket tour lengkap dari operator lokal yang terpercaya, dapat menghubungi Arif dan Dessy di +6285387165556 dan nugieaksara@yahoo.com. Kunjungi www.orangutanapplause.com untuk info lebih lanjut.
  • Pusat rehabilitasi orangutan/orangutan feeding site di kawasan taman nasional ini bukanlah kebun binatang. Patuhi aturan aman pengamatan orangutan dari pemandu. Wisatawan dilarang memberi makan orangutan dan satwa liar lain.
  • Gunakan pakaian yang nyaman sesuai musim. Warna pakaian sebaiknya tidak mencolok dan menyesuaikan dengan warna-warna alam seperti warna-warna gelap, atau warna pohon dan tanah.
  • Bawa obat anti nyamuk dan obat-obatan pribadi karena sulit didapatkan di dalam kawasan taman nasional.
  • Mohon untuk menjaga kebersihan selama berada di dalam kawasan taman nasional dan menginap di dalam kapal kelotok. Sampah yang dibuang sembarangan dapat mengganggu lingkungan sekitar dan satwa liar yang hidup di dalam kawasan.
  • Musim tinggi kunjungan adalah Juli – Agustus, dan libur akhir tahun. Kunjungan pada saat tersebut harus dilakukan pemesanan jauh hari karena seluruh kapal kelotok dan tour akan sangat sibuk.
  • TNTP dapat dicapai dengan pesawat udara melalui Pangkalan Bun, dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Dermaga di Tanjung Kumai. Kemudian menggunakan kapal kelotok untuk mengunjungi kawasan taman nasional.
  • Dengan kapal laut dapat dicapai dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan Tanjung Perak Surabaya.
  • Apabila ingin berkontribusi terhadap kegiatan pelestarian di TNTP, OFI (Orangutan Foundation International) memfasilitasi kegiatan sebagai sukarelawan jangka panjang dan jangka pendek dari tenaga dengan berbagai latar belakang keahlian. Berbagai kegiatan lain yang bisa dilakukan adalah kampanye, networking, hingga donasi .  Informasi lebih lanjut : https://orangutan.org/