October 2

*Dimuat di Kompas Klass, Kompas Edisi Rabu 27 Januari 2016

Sangat mudah untuk jatuh cinta pada Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Bagaimana tidak kalau di sinilah satu-satunya kawasan di dunia di mana empat mamalia Asia: orangutan sumatera, gajah sumatera, harimau sumatera, dan badak sumatera menetap dalam “satu rumah”. TNGL juga jadi tempat tinggal bagi bunga terbesar (Rafflesia arnoldii) dan bunga tertinggi (Amorphophallus titanium).

Berbagai pengakuan pun disematkan pada taman nasional ini, sebut saja Cagar Biosfer melalui program MAB-UNESCO pada 1981, ASEAN Heritage Parks pada 1984, serta Warisan Dunia Alam UNESCO (bersama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) pada 2004.

Bukit Lawang adalah pintu masuk wisatawan internasional dan domestik ke TNGL, dengan beragam kegiatan alam yang bisa dilakukan. Sebut saja trekking di hutan, berenang di Sungai Bohorok yang jernih, tubing dengan ban berukuran besar, atau piknik di pinggiran sungai. Kegiatan lain adalah melihat orangutan semi-liar, yang menjadi ikon tempat ini, diberi makan.

Di Tangkahan, gajah dan mahout-nya membantu pihak taman nasional berpatroli sebagai upaya mengurangi konflik antara manusia dan gajah. Selain itu, wisatawan juga turut diundang untuk merasakan sensasi memandikan gajah di sungai alami dan menjelajah hutan dengan gajah-gajah patroli tersebut.

Perkemahan untuk Peserta Arung Jeram-Foto-Joni Kurniawan-Explore Sumatera

Perkemahan dengan peralatan lengkap disiapkan pengelola lokal untuk peserta arung jeram dan kegiatan kemah di alam. Wisatawan tetap merasakan kenyamanan sambil belajar dari alam sekitar.

Salah satu spot Wisatawan Bisa Nyebur ke Sungai -Foto-Joni Kurniawan-Explore Sumatera

Kawasan penyangga juga ikut menikmati kekayaan alam TNGL dengan membuat berbagai kegiatan wisata. Salah satunya menawarkan pengalaman memacu adrenalin mengarungi jeram-jeram di Sungai Wampu. Salah satu penyedia jasa arung jeram lokal akan mengajak wisatawan ikut bermain air dengan anak-anak desa di salah satu titik pengarungan.

Deretan penginapan di Bukit Lawang yang menghadap sungai, dengan pemandangan wisatawan tubing dengan ban besar, menjadikan suasana tempat ini sering dibandingkan dengan Vang Vieng di Laos. Walau begitu, Bukit Lawang sering dinilai memiliki daya pikat lebih tinggi dibandingkan kawasan tersebut.

Pintu masuk menuju taman nasional di Bukit Lawang menyajikan atraksi menarik tersendiri. Pengunjung harus menyeberang sungai dengan sampan kayu yang ditarik tali pengait oleh pemandu sampan.

Camp Alas menuju Camp Kolam Badak di Gunung Leuser-Foto: Ahtu Trihangga

Pecinta alam akan berlabuh di Kedah. Ini adalah gerbang pendakian menuju Gunung Leuser, yang telah melegenda di antara para pendaki gunung. Kawasan tersebut dapat dijelajahi 3-14 hari. Akhir Oktober 2015, pihak taman nasional mengadakan “Ekspedisi Leuser 2015” untuk membersihkan, memperjelas, dan memasang tanda-tanda sepanjang jalur pendakian sebagai navigasi untuk pendaki umum.

Menyusun penanda logistik Ekspedisi Leuser 2015 - Foto Ahtu Trihangga

Menyusun kertas-kertas penanda paket logistik per hari. Paket-paket tersebut dibagi secara merata pada para pendaki dalam Ekspedisi Leuser 2015.

Harimau Sumatera adalah salah satu spesies kunci di TNGL, yang populasinya makin menurun. Persoalan pelestarian harimau di antaranya adalah konflik harimau dengan manusia akibat rusak/hilangnya habitat, penyusutan jumlah mangsa, serta perburuan harimau.

Badak Sumatera yang Perlu Perhatian Khusus - Foto Koen Meyers

Selain harimau Sumatera, spesies lain yang memerlukan langkah penyelamatan di kawasan ini adalah badak Sumatera. Ancaman hilangnya habitat badak Sumatera semakin serius sehingga perlu perhatian khusus pada spesies kunci ini.

Keleng Ukur Sembiring, salah satu rimbawan yang menjaga pelestarian kawasan. Ia pernah menerima penghargaan pada tahun 2011 dari Menteri Kehutanan yang menjabat saat itu. Penghargaan diberikan atas dedikasinya bekerja dengan menetap langsung di wilayah terpencil, menjaga kawasan restorasi ekosistem di Sei Serdang, Resort Cinta Raja, Seksi Besitang, BPTN III Stabat, Sumatera Utara. Banyak kearifan bisa dipelajari dari langkah nyata yang dilakukan Keleng, termasuk bagaimana menjaga hutan dengan hati, berjuang tanpa pamrih menghutankan kembali kawasan bekas dirambah sawit, serta memberi pemahaman langsung pada masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan.

Bagi masyarakat di hampir semua wilayah pinggiran TNGL, kopi adalah tradisi. Sepanjang hari diisi dengan perbincangan ditemani bergelas-gelas kopi lokal yang kental. Warung kopi Surya Indah di kota kecil Tiga Binanga, adalah salah satu persinggahan bagi wisatawan yang melalui jalur lintas Sumatera Utara-Aceh menuju kawasan TNGL. Silakan memilih beragam kopi atau teh dari daftar menu yang ditempel di dinding. Namun, hati-hati menikmati kopi di sini, rasa rindu akan mengikat untuk selalu kembali.