September 18

Teks dan Foto oleh: Jeri Kusuma

Jeri Kusuma, arek Suroboyo yang suka melakukan perjalanan, menyelam dan memotret. Perancang grafis dan animator yang sedang menikmati menjadi juru kampanye digital organisasi lingkungan global.


Matahari sudah terik namun belum terasa menyegat. Langit terlihat cerah dengan warna birunya, serasi dengan laut yang ada di depan saya. Perahu kami meluncur cepat tanpa hambatan berarti. Ya, laut begitu tenang, serasa tanpa gelombang, terlihat dari permukaannya yang seperti cermin raksasa memantulkan keindahan langit pagi itu.

Suguhan sempurna untuk mengawali perjalanan menuju destinasi yang terkenal dengan kata “surga” dari beberapa catatan perjalanan yang telah saya baca sebelumnya. Walau saya tahu, agak berlebihan karena si penulis tentu belum pernah ke surga.

Sempurna.

Adalah kata untuk menggambarkan kondisi alam saat itu. Namun tidak untuk rencana perjalanan saya. Sebenarnya sudah terlalu siang untuk berangkat menuju Pulau Wayag, yang membutuhkan waktu 4 jam perjalanan dengan perahu cepat dari Waisai, ibu kota Raja Ampat.

Saya akui perjalanan kali ini hampir tanpa perencanaan sama sekali. Sehingga kurang perhitungan. Kami baru mencari perahu cepat pagi itu. Sewa perahu idealnya dilakukan satu hari sebelum berangkat, sehingga bisa berangkat pagi keesokannya.

Kapasitas perahu kami 10 orang. Biasanya berisi 8 penumpang dengan 2 pemandu yang merangkap sebagai pengemudi bergantian. Kali ini perahu berbahan fiberglass ini hanya mengangkut 4 orang, saya dan Binangkit rekan saya, serta 2 orang pemandu yang dipimpin bang Alwi. Saya berharap bisa mempercepat waktu tempuh dengan beban penumpang yang lebih sedikit.

Tenangnya Laut Raja Ampat

Di tengah perjalanan panjang, perahu kami berbelok ke arah daratan.

“Mau beli ikan. Buat di Wayag,” kata Bang Alwi, ketika saya bertanya.

Wah, makan nanti menunya ikan bakar segar nih. Pikir saya.

Perahu kami bergerak perlahan menghampiri sampan kayu kecil milik seorang nelayan. Saya mengamati perairan sekeliling. Sepanjang mata memandang, saya tidak melihat ada nelayan lain. Pun tidak juga ada desa di dekat sini.

Saya bertanya ke bang Alwi, “Bapak nelayan ini dari desa mana ya.”

“Beliau nelayan yang berasal dari desa yang akan kita singgahi nanti. Desa terakhir sebelum Wayag. Kira-kira 50 menit lagi kita sampai di desa itu,” jawabnya.

Nelayan Desa Serpele

Saya langsung membayangkan butuh berapa lama nelayan ini sampai ke perairan di sini dari desanya. Hanya dengan sebuah sampan kecil bermesin robin. Sedangankan perahu kami yang memakai mesin 80 PK saja butuh waktu setidaknya 50 menit. Saya sedikit memaklumi. Negara ini berbentuk kepulauan, interaksi masyarakat yang intim dengan lautnya melahirkan budaya maritim yang kuat. Pelaut dan nelayan tangguh banyak tersebar di penjuru negeri ini.

Tak lama bapak nelayan tadi menyerahkan dua ikan tongkol berukuran cukup besar hasil tangkapannya.

“Ambil saja, tidak apa-apa” katanya.

Uang yang disodorkan bang Alwi ditolak dengan halus. Bang Alwi lalu  mengambil tiga buah roti dari bekal kami. Nelayan itu mengambil dua roti dan memberikan kembali satu sisanya.

“Ini sudah cukup,” Jawabnya lagi.

Membeli ikan dari Nelayan desa Serpele

Saya tidak begitu mendengar detail sisa percakapan mereka karena sibuk dengan kamera.

Perahu kami melanjutkan perjalanan kembali.

Saya termenung sejenak. Tanpa sengaja kami baru saja melakukan aktivitas barter di laut. Kegiatan ekonomi paling tua peradaban manusia. Mungkin dalam batasan tertentu masyarakat sekitar masih sering melakukannya. Hal yang sudah langka saat ini, dimana aktivitas ekonomi melibatkan uang sebagai ganti nilai barang atau jasa.

Perahu mulai melambat setelah bermanuver melewati sebuah tebing karang di tengah laut. Tidak terasa kami telah sampai di desa Serpele, desa asal bapak nelayan tadi.

Kami berhenti sejenak. Meminta izin dan membayar retribusi desa untuk setiap perahu atau kapal yang memasuki Kepulauan Wayag, yang merupakan wilayah adat mereka.

Saya dengar baru beberapa tahun ini mereka memberlakukan retribusi desa. Sebelumnya ketika Raja Ampat begitu terkenal sebagai destinasi wisata yang relatif mahal, mereka tidak mendapat manfaat apa-apa.

Sebagai bentuk kekecewaan mereka sempat melakukan penutupan jalur pendakian populer untuk menikmati kepulauan Wayag dari atas bukit karang. Hingga akhirnya jalur tersebut dibuka kembali setelah perwakilan pemerintah berbicara dengan mereka. Tercapailah beberapa kesepakatan. Salah satunya terkait retribusi desa.

Saat teman saya mengurus izin ke pengurus desa, saya melihat warga sedang berkumpul pada ruas jalan di sebelah gereja. Saya bertanya pada sekelompok anak yang hendak menyaksikan keramaian tersebut. Dengan malu-malu mereka menjawab bahwa ada latihan parade untuk menyambut hari besar keagamaan.

Pertunjukan Budaya Desa Serpele

Saya sempat mengabadikan beberapa frame aktivitas tersebut. Bang Alwi dan teman saya bergerak mengarah ke dermaga, sambil memberi isyarat untuk bergegas ke Wayag.

Benar. Kami sudah terlalu siang ketika menyeberang ke Wayag. Gelombang laut sudah cukup tinggi. Kami terhempas ke sana ke mari sepanjang perjalananan. Rasanya ini bukan sekadar gelombang dari angin.

Saya mengamati gelombang laut yang tidak teratur. Lebih mirip seperti pola gerakan air mendidih di panci. Di beberapa titik, perahu kami melewati arus air yang seperti bergerak dari bawah laut. Dugaan saya ini imbas dari pertemuan arus laut dari Samudera Pasifik, Laut Seram, dan Laut Halmahera; Mengingat posisi kepulauan Wayag berada di antara ketiga laut tadi.

Gerakan perahu mulai sedikit tenang ketika memasuki wilayah perairan sekitar Wayag. Kami berlabuh di dermaga kayu dengan pantai berpasir putih yang terlihat begitu alami. Air pantai yang jernih, gerombolan  ikan berwarna-warni dengan berbagai ukuran berenang dengan lincah di sekitar terumbu karang, seolah menyambut kedatangan kami. Senyum yang terkembang di wajah saat itu rasanya belum cukup untuk menjelaskan begitu terpesonanya saya.

Saya baru mengetahu jika tempat ini adalah basecamp Conservation Internasional (CI), sebuah LSM konservasi Internasional yang memiliki wilayah kerja di Wayag. Bang Alwi mengajak kami bertemu petugas, melapor untuk mendaki Bukit Wayag, sekaligus meminta izin untuk bermalam di sana. Sebelumnya di perahu, kami sempat mendiskusikan kemungkinan bermalam di Wayag. Mengingat terlalu beresiko jika dipaksakan kembali ke Waigeo sorenya.

Dermaga CI, Raja Ampat

Kami diizinkan bermalam karena terlalu beresiko melakukan navigasi laut pada malam yang gelap. Apalagi cuaca di laut susah diprediksi. Kami dipersilakan beristirahat, memulihkan tenaga sebelum melakukan aktivitas pendakian di Bukit Wayag.

Bukannya beristrirahat, saya dan rekan saya malah memutuskan menjelajah pantai di depan basecamp. Menikmati jernihnya air laut yang berpadu dengan lembutnya pasir putih yang terhampar sepanjang pantai. Setelah puas, saya duduk beristirahat di bawah pepohonan. Sebuah perahu panjang berwarna biru berbahan fiberglass di depan saya menjadi pemanis tersendiri ketika saya menikmati suguhan alam yang begitu rupawan ini.

Semilir angin hampir menidurkan saya ketika bang Alwi memanggil dan mensarankan kita bergerak ke Bukit Wayag. Sayapun menyetujuinya dan segera mempersiapkan kamera dan perbekalan. Perahu kami meluncur memutari kepulauan Wayag, sekitar 20 menit kemudian untuk mendarat di sebuah pantai. Pantai ini merupakan titik awal jalur pendakian untuk menikmati bentang alam Wayag dari ketinggian.

Mendarat di Pantai Sebelum Mendaki Bukit Wayag

Ternyata mendaki Wayag bukanlah hal yang mudah. Tidak terlalu tinggi, namun jalur yang terjal, ditambah teriknya mentari siang itu membuat suhu udara terasa begitu panas. Saya yang sudah sangat lama tidak melakukan kegiatan luar ruang hampir kewalahan. Dengan bergerak perlahan akhirnya saya hampir mencapai puncak. Binangkit sempat menertawakan stamina saya yang saat ini sudah mulai kendor. Saya pun ikutan tertawa dalam hati jika mengingat beberapa tahun lalu, mendaki bukit kecil seperti ini bukanlah masalah besar.

Jalur Pendakian Bukit Wayag, Raja Ampat

Pemandangan di tengah Pendakian Bukit Wayag

Entah kenapa tenaga saya kemudian terasa penuh lagi ketika berdiri di puncak Wayag. Pamandangan laut biru bercampur hijau disekitar barisan bukit kapur dengan pepohonan hijau di atasnya membuat saya tidak berhenti menekan tombol shutter kamera.

Cantik! Indah! Menawan!

Entah kata apa lagi yang bisa menggambarkan bentang alam kepulauan Wayag ini. Puncak Wayag ini memang stategis untuk menikmati Kepulauan Wayag. Terlihat di kejauhan sebuah kapal phinisi sedang menurunkan jangkarnya di antara pulau-pulau kecil menjulang. Mungkin di bawahnya para penyelam sedang menikmati keindahan bawah lautnya. Bayangan pari manta beberapa kali sempat terlihat berenang di sudut lain perairan, sebelum akhirnya menghilang di wilayah perairan yang dalam.

Inilah Puncak Wayag!

Puncak Wayag, dari sisi yang lain

Rasanya saya pengen berlama-lama di sini. Namun udara yang semakin panas membuat tubuh tidak nyaman. Akhirnya memaksa kami untuk mengakhiri aktivitas di puncak Wayag. Tidak seperti mendaki, menuruni bukit Wayag kami lakukan dengan cukup cepat.

Ketika sampai di pantai lokasi perahu kami bersandar, kami tidak segera bergegas pergi. Hal yang tidak boleh dilewatkan setelah dari puncak Wayag adalah menikmati suasana pantai di bawahnya. Cukup lama kami bermalas-malasan di pantai ini. Akhirnya kami memutuskan berkeliling dengan perahu mengitari pulau-pulau kecil yang menjulang sebelum kembali ke basecamp CI.

Pantai Sebelum Mendaki Bukit Wayag

Pemandangan saat Berkeliling Wayag

Ketika perahu kami hampir sampai di dermaga basecamp CI, perahu fiberglass biru tadi terlihat bertolak pergi bersama dua orang di atasnya. Menurut bang Alwi, kemungkinan besar mereka memancing jauh di luar wilayah konservasi. Sekitar Wayag memang dilarang untuk memancing.

Di basecamp CI terdapat beberapa kamar untuk petugas jaga yang bekerja di sana. Kami menempati salah satu kamar kosong. Meletakkan beberapa barang bawaan, kemudian menikmati suasana sore di dermaga.

Di dermaga, bang Alwi sedang memotong-motong ikan pemberian nelayan tadi. Saya menengok ke bawah dermaga ketika ikan kerapu raksasa muncul di sekitar karang. Tidak lama beberapa ekor hiu turut muncul setelah darah dan potongan ikan hasil pembersihan bang Alwi tercecer di air. Cukup lama mereka berenang di sekitar dermaga, sampai akhirnya kawanan hiu itu tidak terlihat lagi karena ceceran potongan ikan sudah habis.

Membersihkan Ikan di dermaga

Hiu di Dermaga CI

Mmbersihkan ikan, sementara hiu menanti

Membersihkan Ikan, sementara hiu menanti

Sambil menunggu malam menjelang, saya memutuskan berenang di pantai. Sedikit mengambil jarak dari dermaga tempat hiu tadi muncul, sambil berharap kawanan hiu tadi sudah berenang menjauh dari pantai. Sedangkan Binangkit memutuskan duduk-duduk di dermaga. Bang alwi berganti pakaian kemudian memindahkan perahu dari dermaga ke pantai dekat saya berenang. Awalnya saya menyangka dia akan turut berenang, namun ternyata dia membersihkan kerak bagian bawah perahu.

Cukup lama saya bermain di air, ketika dua orang yang tadi pergi memancing kembali dengan hasil tangkapannya. Mereka kembali dengan menggiring sebuah perahu nelayan berukuran sedang bersama mereka. Tiga orang nelayan diminta melapor ke kantor dengan diantar salah satu orang yang memancing tadi. Belakangan saya mengetahui kalau mereka kedapatan mencari ikan di sekitar perairan Wayag, yang sangat dilarang. Mereka jelas bukan warga desa sekitar.

Satu orang lagi kemudian membersihkan hasil tangkapannya di dermaga. Saya lalu berlari ke dermaga. Benar dugaan saya. Tak butuh waktu lama, kawanan hiu kembali muncul untuk bersantap sisa-sisa hasil pembersihan ikan—makan malam kami semua. Beberapa orang dari arah basecamp ikut datang ke dermaga. Hanya satu yang kembali ke arah arah kantor, membawa ikan yang sudah dibersihkan.

Kami menikmati sore sambil membicarakan banyak hal; dan terus bertahan di dermaga hingga langit gelap. Obrolan ringan hingga berat bercampur jadi satu. Mulai pembicaraan tentang kehidupan penjaga kawasan konservasi, konfrontasi dengan nelayan yang menentang pariwisata, kapal pesiar yang pernah datang, hingga tentang nelayan lintas batas.

Hingga akhirnya panggilan masakan sudah matang, membuat kami mengakhiri obrolan. Beberapa orang membantu mengangkat masakan ke dermaga. Kami memutuskan makan malam di dermaga sambil melanjutkan obrolan hingga malam. Perjalanan ini terlalu indah untuk diakhiri.