August 11

Saya tidak pernah menyangka apa yang saya tulis pada artikel yang tayang di Majalah Panorama Edisi Mei-Juni 2012 akan menjadi kenyataan.

Pada akhir artikel saya menulis:
“Saya masih akan datang lagi ke Lombok. Bukan untuk nostalgia, tapi untuk berkunjung ke tempat lain yang akan menjadi pertama kali buat saya”

Ya. Saya kembali ke Lombok. Bahkan menetap di sini untuk sementara dan harus melakukan kunjungan ke banyak tempat seperti yang biasa saya lakukan dalam pekerjaan. Teman-teman saya langsung iri saat tahu saya ditempatkan di pulau ini (Eh, iri dalam makna positif ya).

Jaringan pertemanan saya memang rada absurd. Mereka (termasuk saya juga) akan lebih iri melihat saya berada di tempat eksotis—menurut kami—yang belum dikenal namanya daripada melihat salah satu dari kami berfoto di tengah keramaian tempat seperti Hongkong misalnya.

Perasaan saya ketika pindah ke Lombok:

Excited.

Bersepeda di Sekotong, Lombok

Pindah dari kota yang ramai dan sibuk ke kota kecil yang santai dimana matahari bersinar terang, angin sepoi-sepoi, tidak ada yang terburu-buru atau mengeluh macet. Semua berjalan lambat.

Mula-mula, sudah pasti saya mengalami disorientasi waktu. Rasanya kok saya gak belajar dari pengalaman. Saat menuju suatu tempat atau akan meeting, bisa-bisanya saya kecepret-cepret karena terburu-buru ingin tiba sekitar 10-15 menit sebelum pertemuan dimulai. Walhasil, saya harus menunggu lama karena tiba sangat awal. Akibat jarak yang berdekatan plus tanpa macet pula, ditambah peserta meeting lainnya yang lambretta lamborgini. Apa yang harus dilakukan ketika tiba 1.5 jam di TKP sebelum meeting di mulai?

Pada bulan-bulan pertama, banyak kejadian yang membuat saya sebal bin marah. Terlalu detik untuk saya rinci.

Wisata memetik stroberi di Sembalun - Lombok harus serius

Lombok punya track sepeda berlimpah!

Gunung Rinjani dilihat dari Bukit Pergasingan

Ini pemandangan kalau ikut Panorama Walk Tour di Sembalun

Tapi, sudah 19 tahun saya merantau. Pindah dari satu kota ke kota lain di beberapa negara yang berbeda. Aneh rasanya kalau saya “merasa kalah” di kota ini.

Lama kelamaan, saya menemukan banyak hal di Lombok yang membuat saya menjadi lebih memaknai hidup. Selain hal-hal yang membuat saya kesal, di setiap sudut pada banyak kesempatan, saya selalu mendapat pertolongan dari segala penjuru, dari orang yang mengenal hingga yang tidak kenal saya pada saat saya butuh bala bantuan.

Saya menemukan orang-orang yang bekerja keras, namun menghargai kehidupan lain diluar pekerjaan. Buat mereka, keluarga adalah mikrokosmos dengan rumah sebagai makrokosmosnya. Pada akhirnya, banyak pertanyaan-pertanyaan tentang hidup mampir dalam kepala saat saya leyeh-leyeh minum kelapa muda di tepi pantai yang hanya berjarak 25 menit dari pusat kota, sambil memandang sunset tentunya.

Saya mulai menemukan ritme kehidupan di Lombok. Selalu ada hal-hal baru dan tempat-tempat baru yang saya temukan di sini.

Di Sesaot Lombok, ini "reward"setelah jelajah hutan

Berugak - Bale bengong khas Lombok

Saya sangat menikmati berjalan kaki atau bersepeda dari rumah menuju kantor diringi musik yang saya dengar melalui headphone, dengan sapa ramah orang-orang yang saya lewati—mereka tidak peduli saya menggunakan headphone dengan tetap menyapa saya. Saya selalu melalui pohon-pohon superbesar yang menaungi jalan-jalan protokol di kota ini. Yang menurut saya adalah jalan raya cantik yang tak kalah dengan boulevard di luar negeri. Kadang-kadang, langkah saya diringi angin bertiup kencang, sehingga daun-daun yang sudah berwarna kuning dari pohon-pohon besar mencuar ke langit itu luruh, dan tumpah dengan riuh ke jalan. Sebagian kadang jatuh mengotori kepala saya.

Ah… dunia milik saya.

Itulah salah satu makna hidup yang saya temukan kembali di sini. Ada banyak hal kecil yang patut kita syukuri setiap hari, dan bahwa definisi hidup bahagia tentu berbeda bagi setiap orang.

Berhasil  membuat kembali definisi kebahagiaan hidup menurut versi saya adalah rezeki yang patut saya syukuri.

Buat saya, rezeki itu bukan hanya uang, tapi juga kesehatan, waktu, kesempatan, keluarga dan teman-teman baik. So I should make the most of my time now and appreciate all I have.

Karena saya tahu, suatu saat saya akan merindukan hari-hari yang saya jalani di Lombok dari tempat lain lagi, yang saya belum tahu di mana.