June 11

Teks dan foto oleh: Munawar Kholis

Lahir, besar dan kuliah di Jogjakarta. Pegiat program konservasi pelestarian hutan dan biodiversity di Indonesia terutama di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Keluar dari jalur profesinya sebagai dokter hewan dan saat ini fokus meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi sambil menjelajah hutan-hutan di Indonesia. Menulis catatan perjalanan adalah jalur baru yang dilakoninya.


Pilot mengisyarakan bersiap melakukan pendaratan di Praya, Lombok International Airport. Ingin rasanya mencuri pandang Lombok dari ketinggian pesawat. Pagi itu cukup beruntung karena pesawat perlu berputar menyesuaikan arah angin untuk pendaratan sempurna sehingga bisa berlama-lama terbang rendah.

Lombok International Airport - Munawar Kholis

Menjejakkan kaki pertama kali di pulau ini semakin membuat sudut bibir tak dapat berhenti tersenyum. Seringai itu bahkan sudah ada sejak merencanakan perjalanan singkat ke Pulau Lombok, sambil googling referensi destinasi yang wajib didatangi. Terbayang pemandangan Gunung Rinjani dengan Segara Anak di tengahnya, sunset di Senggigi yang berlatar Gunung Agung di Pulau Bali, Pantai Sekotong dan tiga Gili. Membayangkan snorkling di atas terumbu karang, mengalami suasana pagi di pedesaan yang kental dengan tradisi lokal sambil menikmati teh beraroma mint di Sembalun.

Durasi yang tidak lama memaksa untuk merencanakan trip yang bisa mewakili bentang alam Pulau Lombok. Berarti harus ada pegunungan, suasana pedesaan dan pantai. Itu sebabnya pilihan jatuh untuk mendaki Bukit Pergasingan dengan pemandangan Gunung Rinjani di Desa Sembalun, serta menikmati pantai barat Lombok dengan susur pantai dari Sengigi hingga Puncak Malimbu. Sebelum bertolak ke Pantai Mangsit, tempat menginap.

Perjalanan dimulai. Dua setengah jam berkendara mobil dari airport hingga ke Sembalun, desa yang membentang di sepanjang kaki Bukit Pergasingan dengan pemandangan hamparan sawah mendominasi pandangan. Jauh dari hiruk pikuk dan kesibukan ibukota.

Memilih Bukit Pergasingan (± 1700m dpl) bukan tanpa alasan. Ini semata karena posisi bukit ini berada di arah Tenggara Gunung Rinjani, terpisahkan oleh lembah Sembalun. Berada di puncak Pergasingan menawarkan sudut pandang sempurna untuk menikmati hamparan lembah Sembalun. Desa yang dihiasi bidang-bidang sawah dengan gradasi warna sesuai umur padi dan jenis tanaman, dan sunset di ujung timur. Di ujung mata memandang, terdapat bukit-bukit berkontur tajam dan berlekuk. Di sudut lain, Gunung Rinjani (3726 m dpl) kokoh berdiri. Sedangkan di Utara, garis pantai samar terlihat.

Bukit Pergasingan - Pergasingan Hill - Munawar Kholis

Bukit Pergasingan - Pergasingan Hill - Munawar Kholis

Sembalun (±1000 m) merupakan desa di kaki Gunung Rinjani, pemukiman masyarakat asli Lombok dengan kultur agraria serta budaya masyarakat yang masih kental. Terkenal sebagai penghasil sayur-mayur. Meski tidak sempat berkunjung, Desa Beleq, sebuah desa peninggalan sejarah yang menjadi asal muasal masyarakat Sembalun pun terihat dari Bukit Pergasingan. Bentuk dan susunan rumah desa ini berbeda dari kebanyakan desa lain.

Pergasingan berbatu pada lerengnya. Hanya terdapat alang-alang pada jalur pendakian, dengan sedikit semak belukar. Sehingga lekuk bukit terlihat begitu detil dari kakinya.

Bukit Pergasingan - Pergasingan Hill - Munawar Kholis

Pendakian ke Bukit Pergasingan biasanya ditempuh 1,5 jam bagi pendaki yang rutin mendaki gunung. Namun jangan khawatir, bagi pendaki amatir, tetap dapat mendaki puncak Pergasingan selama 2,5 jam dengan banyak istirahat tentunya. Jarak tempuh mungkin hanya ± 2 km, tapi tingkat kemiringan bukit sangat menantang membuat sedikit terasa melelahkan.

Lekuk dan deretan Bukit Pergasingan mungkin akan membangkitkan gairah berlari di puncak untuk mencapai bukit yang lain dengan tenaga tersisa setelah pendakian terjal, karena puncak bukit ini berderet tanpa terputus. Selintas teringat bukit dalam serial TV pendidikan anak Teletubbies.

Saat tiba di puncak dan tak lagi mendaki, suhu tubuh menjadi dingin. Tubuh menjadi sasaran terpaan angin. Tenda harus segera dikembangkan. Siapa sangka hidangan terbaik pada titik dan detik ini adalah secangkir teh.  Menyesapnya sambil duduk di depan tenda, memandang langit  semburat jingga matahari senja menghias awan.

Berkemah di Bukit Pergasingan - Munawar Kholis

Pemandangan di atas awan menjadi pengobat sedikit ketidak-beruntungan karena matahari yang tenggelam tertutup awan. Pada musim lain mungkin ceritanya akan sedikit berbeda dengan pemandangan sunset saat ini. Suhu malam hari di bukit ini mencapai sekitar 15° Celcius.

Tiada sunset, sunrise pun jadi. Sengaja tidak berdiri di ujung bukit tertinggi untuk melihat langsung ke arah matahari. Dengan sedikit turun, saya bisa melihat cahaya pagi menerobos diantara celah bukit. Pagi yang cerah, Gunung Rinjani pun mulai terlihat memerah. Desa Sembalun dan sekitarnya masih bermalasan berselimut kabut.

Saya bukan satu-satunya pengunjung yang memilih cara ini menikmati Gunung Rinjani di pagi hari.  Puluhan remaja di situ juga melakukan hal yang sama. Menatap Gunung Rinjani di pagi hari sambil melipat tangan didada menahan hawa dingin.

Terik matahari siang tidak lagi bisa dinikmati di puncak bukit tanpa pohon besar sebagai peneduh. Menyempatkan mampir di kebun salah satu warga desa untuk memetik beberapa helai daun mint untuk dinikmati bersama teh saat istirahat di penginapan. Perjalanan harus dilanjutkan. Kurang lebih 3 jam perjalanan berkendara menyisir pantai bagian Utara hingga Barat Pulau Lombok.

Jika ada kesempatan lain kembali ke puncak Bukit Pergasingan, jangan lupa membawa beberapa helai daun mint. Mungkin sepuluh helai daun ini membuat secangkir teh— sambil menikmati senja di Bukit Pergasingan—akan jauh lebih berarti.

Dua hari di Pulau Lombok, mustahil untuk menelisik seluruh lekuk keindahan dan tanda kebesaran penciptanya. Benar kata teman yang menyertaiku, bahwa perjalanan ini baru menyentuh kulitnya saja. Perjalanan kedua? Why not?!