September 9

Gara-gara ada teman yang cerita kemarin kalau dia pergi meeting ke Strasbourg, Perancis, tiba-tiba saya kok jadi kangen kota ini. Buat saya, Strasbourg adalah kota yang indah dan tenang walau dingin. Kalau kota-kota lain di Perancis matahari sudah mulai terlihat pada akhir musim dingin, dan penduduknya mulai menanggalkan jaket; di sini orang-orang masih mengenakan mantel tipis penghalau angin. Kalau tidak siap dengan kondisi cuaca, bisa-bisa salah kostum. Saking dinginnya, foto-foto saya juga tidak ada yang cerah berlatar langit biru.

Berbatasan dengan Jerman, teman-teman saya yang menetap di sini bahkan mengatakan mereka terkadang menyeberang ke Jerman untuk berbelanja atau ingin sekadar  mencoba makanan dengan sentuhan lain. Menapaki Kota Strasbourg memang berasa seperti di Jerman, bukan di Perancis. Mungkin karena sebagian bangunan-bangunan ala Jerman dan bahasa yang digunakan sebagian penduduknya.

Atraksi wisata utama di Strasbourg adalah suasana kota dengan bangunan-bangunan dari berbagai masa. Mulai dari bangunan masa abad pertengahan, renaisans, hingga bangunan zaman modern. Setelah pelesir ke banyak kota-kota besar dan kecil di Eropa, menurut saya atraksi utama selalu bangunan/arsitektur, taman, dan makanan. Kalau punya waktu dan bujet mestinya menjelajah jauh ke desa-desa di luar kota yang sebagian besar punya bentang alam menarik.  Salah satu atraksi yang terkenal di kota ini adalah Le Marché Noel atau pasar natal yang juga menjadi atraksi di kota-kota lain di Perancis/Eropa.

Untuk melihat Strasbourg, memang harus melalui jalan-jalan yang nyaman bagi pejalan kaki di kawasan le Petit France, kawasan seperti negeri dongeng dengan bangunan-bangunan setengah kayu; atau kawasan Grande Ile, kawasan dengan status Warisan Dunia UNESCO dengan Katedral  Notre Damme, Palais Rohan, dan Museum Alsace sebagai atraksi utama. Sesekali, bolehlah melihat Strasbourg dari kaca jendela Tram yang mengeliling kota.

Sama seperti kita di Indonesia, tiap region di Perancis punya kultur yang berbeda-beda. Termasuk Strasbourg yang menjadi Ibukota region Alsace ini. Beberapa kebudayaan seperti kuliner khas yang mirip-mirip Jerman seperti misalnya  flammekueches, yang di Perancis disebut Tarte Flambée aka pizza supertipis yang biasanya berbentuk persegi panjang. Belum lagi sosis dan keju yang menguasai setiap piring makanan utama. Banyak jenis sosis tidak bisa saya makan. Untuk lidah orang Indonesia, tempat yang tepat untuk mencoba Tarte Flambée adalah Flam’s. Restoran dengan sajian utama Tarte Flambée yang konsepnya mirip-mirip makanan cepat saji.

Nyaris tidak pernah terdengar kasus kejahatan di kota yang tenang dengan beragam agama yang hidup berdampingan ini. Mungkin itu sebabnya Kota Strasbourg menjadi poros kedudukan Parlemen Eropa, Ombudsman Eropa dan banyak lagi yang lainnya. Strasbourg adalah pemandangan kota yang indah, suasana yang tenang dan nyaman, serta makanan enak. Sempurna!