August 2

Setelah ngobrol dengan beberapa teman para Parisien (sebutan untuk orang yang tinggal di Paris), saya baru tahu kalau Brussels adalah destinasi favorit mereka untuk menghabiskan akhir pekan. Ternyata ibukota Belgia, negara asal French fries ini bukan hanya menjadi favorit buat warga Paris, warga-warga lain dari kota-kota besar di negara sekitar seperti Jerman, Belanda, Luxemburg, bahkan Inggris menjadikan Brussel sebagai tujuan akhir pekan. Kira-kira seperti Bandung dan Bogor bagi warga Jakarta. Alasan mereka, selain tidak semahal kota-kota tempat mereka tinggal, Brussels menawarkan suasana dinamis yang mereka cari, seperti café-café dan bar-bar yang gaul, kehidupan malam dengan variasi bir yang spektakuler, makanan yang enak, dan banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Untuk para penggemar bir dan cokelat, siap-siap mabuk berat di kota yang menjadi markas Uni Eropa dan pusat banyak konferensi internasional ini.

Buat saya yang berasal dari sebuah negeri yang jauh, tentu tidak bisa menjadikan Brussels sebagai tujuan akhir pekan. Namun saya sengaja datang pada saat akhir pekan untuk membuktikan perkataan teman-teman saya.

Ketika tiba di Brussels pada malam hari dengan kereta, saya langsung berjalan-jalan hingga akhirnya menuju bagian kota yang entah di mana saya tidak tahu. Apa benar artikel-artikel yang menyebutkan bahwa perempuan tidak begitu lihai menggunakan peta? Peta manual yang sangat mudah, ditangan saya menjadi sesuatu yang rumit, hingga akhirnya membuat saya tersesat. Padahal tempat yang saya tuju adalah Grand Place, alun-alun utama Kota Brussels. Alun-alun seharusnya dekat dengan stasiun kereta.

Entah kenapa saya menjadi tidak begitu peduli karena tersesat. Mungkin karena saya jadi terkesan dengan lajur jalanan dengan pemandangan ala kota lama Eropa Barat yang klasik, romantis, dan hidup; yang menjadi kesan pertama tentang Brussels. Lampu-lampu jalanan yang redup mencoba melawan kepekatan malam dan seperti berusaha menunjukkan façade bangunan-bangunan tua dengan penanda tahun. Saya menemukan café buku yang keren dan mampir. Walau hanya minum minuman hangat, saya sempat ngobrol lama dengan pekerja di situ. Sesuatu yang membuat saya agak terkejut. Saya mengira warga Brussels “dingin”, sedingin cuacanya. Karakter warga sebuah kota memang selalu dikaitkan dengan kondisi cuaca. Makin hangat, makin ramah warganya. Kalau dingin, jangan harap bisa bertegur sapa. Bertemu kontak mata saja sudah menjadi barang ajaib.

Bruxella 1238, situs arkeologi dekat Grand Place

Menemukan cafe buku keren ini ketika tersesat

Setelah jauh berjalan melewati macam-macam katedral, beberapa bagian comic strip route, alun-alun, dan jalur dengan berbagai restoran; saya tiba di keriaan malam Grand Place. Alun-alun yang menjadi atraksi utama Brussels ini bermandikan cahaya lampu yang terang dan romantis. Untungnya saya memilih hotel tepat di kawasan Grand Place. Hotel itu menghadap Town Hall atau Hotel de Ville dengan façade bergaya gotik yang kaya cahaya lampu. Mungkin itu sebabnya saya tidur nyenyak sekali malam itu dan besoknya dengan semangat bangun pagi.

Akhirnya tiba di Grand Place

Town Hall/Hotel de Ville di kawasan Grand Place

Sudah tidak sabar rasanya melihat Grand Place pada siang hari. Benar dugaan saya. Para wisatawan yang berbaur dengan penduduk lokal dan para pedagang sudah memenuhi beberapa titik ruas jalan di sekitar Grand Place. Saya kembali ke dalam hotel untuk sarapan, lalu keluar lagi dan menemukan Grand Place ternyata makin ramai! Sebagian besar adalah para turis dan pedagang yang memanfaatkan keramaian hari itu. Grand place memang atraksi utama Kota Brussels, sehingga tempat itu menjadi tumpah ruah tidak saja oleh seluruh pelancong yang datang, tapi juga penduduk lokal.

Alun-alun raksasa berbentuk persegi empat yang dibentengi jajaran gedung-gedung tua dengan façade bergaya gotik dan barok yang spektakuler itu menjadi pusat kegiatan kota. Mulai dari event seperti karpet bunga yang terkenal hingga festival musik malam hari saat musim panas. Kita bisa menikmati panorama gedung-gedung tua nan cantik terawat itu mulai dari Hotel de ville/Town hall yang masih berfungsi hingga saat ini; atau Maison du Roi yaitu kediaman raja yang dulunya tempat salah satu turunan keluarga kerajaan Spanyol menetap, saat ini berfungsi menjadi Musée de la Ville de Bruxelles atau Museum Kota Brussels.

Penanda tahun restorasi bangunan

Suasana Grand Place pagi hari

Salah satu sudut Grand Place

Salah satu dekor gedung di kawasan Grand Place

Keriaan di Grand Place menjalar hingga ke jalan-jalan kecil yang terhubung dengan alun-alun ini. Jajaran toko cokelat dan roti, restoran, serta café supermahal memberikan pemandangan unik tersendiri. Masih di seputar Grand Place, saya melihat sekelompok turis berdiri mengerumuni sebuah object di tembok. Ternyata pahatan patung perunggu Everard’t Serclaes yang mati terbunuh pada 1388 karena lidahnya dipotong oleh musuh setelah dia menggempur pasukan Flemish mundur dari Brussels. Mitos menyebutkan bahwa mengelus-elus bagian lengan patung itu akan membawa keberuntungan dan akan membawa kita kembali ke Brussels. Mengharap keberuntungan itu selalu menyenangkan, jadi saya pun tak mau kalah, ikut-ikutan mengelus bagian lengan pahatan itu. Saat ini pahatan dan patung asli tengah direstorasi dan yang dipamerkan hanyalah replikanya.

Pengingat tahun terbunuhnya Everard t'Serclaes

Nah, keberuntungan yang datang saat itu adalah ketika saya melihat Manneken Pis yang tersohor itu. Ternyata, saya datang jauh-jauh hanya untuk melihat patung seorang anak laki-laki sedang pipis yang……berukuran supermini. Terus terang saya sendiri tidak akan menemukan patung ini kalau tidak melihat kerumunan orang-orang di depan patung yang diberi pagar itu. Saya sempat hampir melewati patung itu karena salah melihat tanda bintang pada peta saya.

Manneken Pis dilihat dari dekat

Penampakan ukuran Manneken Pis yang sebenarnya

Untuk penggemar komik seperti saya, Belgia banyak menghasilkan komik-komik terkenal yang sudah menemani masa saya kecil, remaja, dan dewasa. Saya penggemar komik-komik asal Belgia seperti Smurf, Tintin, dan Gaston. Sehingga, singgahlah saya ke La Boutique Tintin. Sebuah toko dengan harga-harga barangnya yang selangit ke tujuh tempat kita bisa menemukan seluruh souvenir mulai dari tas, kaos, hingga figure yang berkaitan dengan serial Tintin. Pastinya yang paling spektakuler adalah figure Tintin seukuran manusia. Di sini saya membeli tas mungil bergambar Tintin dengan anjingnya dan pensil untuk keponakan perempuan saya yang juga suka Tintin—sebetulnya dia suka dengan Milou, anjingnya Tintin.

Bagian depan La Boutique de Tintin

Pintu masuk La Boutique de Tintin. Di dalam tidak boleh memotret.

Brussels adalah kota yang serius mempromosikan ketenaran komik-komik di negara itu. Pihak pariwisata setempat mempromosikan secara khusus comics strip route, yaitu mural komik yang bertebaran di beberapa titik di Kota Brussels. Saat tersesat waktu pertama kali tiba di kota ini, saya secara tak sengaja menemukan mural Manneken Pis berupa komik di salah satu sudut jalan. Setelah berada di sini baru saya sadar bahwa otoritas pariwisata setempat memang menciptakan rute khusus yang menunjukkan di mana para penggemar komik bisa menemukan mural-mural ala komik di seantero Kota Brussels.

Mural Tintin di comic strip route yang lain

Tokoh komik pun menjadi dekorasi jalan

It's so fun to get lost at Comic strip Route in Brussels!

Untuk penggemar belanja, harus ke Galleries Royales Saint-Hubert. Pusat perbelanjaan berbentuk arcade (gedung yang membentuk jalur berupa gang beratap) ini mengingatkan saya pada beberapa passages couverts di kawasan Grands Boulevards di Paris dan Galleria Vittorio Emanuelle di Milan. Mayoritas tenant kelas dunia menjadi pengisi butik-butiknya.

Tujuan saya selanjutnya adalah Centre Belge de la Bande Dessinée atau Belgian Comic Strip Center. Inilah museum yang wajib dikunjungi oleh penggemar komik. Bahkan mungkin akan menyenangkan juga untuk yang tidak begitu suka komik. Koleksi museum ini bukan hanya menampilkan comic strip, rangkaian foto-foto, dan display interpretasi mengenai komik, tapi juga miniatur dan figur-figur komik yang cukup memanjakan mata. Dengan tata lampu dan display yang tampak sangat menawan, tampilan museum dan koleksinya sangat modern, sehingga menyenangkan dan tidak membuat bosan.

Asterix di Centre Belge de la Bande Dessinée

Mobil siapa ini?

You should learn how to smurf the smurf in a smurf!

Tintin lovers! I am sure you know what it is!

Gaston Lagaffe di depan Centre Belge de la Bande Dessinée

Papan penunjuk jalan, bagian favorit saya di berbagai kota

Setelah terperangkap dalam dunia komik yang disajikan secara modern, saya kembali ke “dunia lama” ala peradaban Eropa dengan berkunjung ke Katedral St. Michel. Katedral ini mirip dengan katedral lain di Perancis atau Italia dari segi tampilan façade, gaya bangunan, hingga benda-benda yang ada di dalam. Di Eropa Barat, sebagian besar katedral adalah obyek wisata gratis untuk para pelancong, sehingga menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi. Seperti katedral lainnya, ada beberapa seni kaca patri warna warni yang spektakuler. Ada juga pahatan mimbar bergaya barok yang menceritakan Adam dan Hawa tengah tergesa-gesa kabur ke luar dari surga. Di katedral ini juga digelar acara-acara seperti misalnya pernikahan anggota kerajaan. Selain berisi benda-benda seni seperti lukisan, lampu, atau pahatan, katedral di Eropa juga tempat persemayaman abadi tokoh-tokoh agama atau bahkan anggota kerajaan. Saya melihat beberapa altar dengan pahatan yang biasanya adalah makam, yang tidak saya ketahui “pemiliknya”.

Seni kaca patri di dalam Katedral St. Michel

Mimbar bergaya Baroque - Adam dan Hawa

Di Brussels, tidak lengkap rasanya kalau tidak mengunjungi Rue des Bouchers. Dijamin semua indra penglihatan, penciuman, dan perasaan akan diajak bekerja lebih keras di sini. Jalanan ini berisi jajaran restoran yang meletakkan sebagian meja kursi yang ditata rapi di luar restoran.Display sajian makanan yang mayoritas adalah makanan laut yang segar menggairahkan seolah memiliki magnet, menarik siapa saja yang tak tahan godaan para pekerja restoran yang berteriak-teriak dalam berbagai bahasa mencoba menarik pelanggan untuk masuk. Pegawai salah satu restoran bahkan berteriak pada saya dalam bahasa Indonesia yang fasih! Saya hanya tersenyum geli ketika dia mencoba membujuk saya untuk masuk dan mencoba makanan di restorannya. Suasana berisik suara-suara memanggil dan membujuk wisatawan itu bercampur dengan aroma masakan, cahaya lampu dari dalam restoran, dan lajur jalanan yang penuh sesak dengan kerumunan wisatawan. Seperti sebagian pelancong lain yang melewati kawasan ini, saya tidak makan di sini karena hanya ingin melihat suasana di Rue des Bouchers. Dinamis dan hidupnya kawasan ini sama dengan kawasan Nizamudin di New Delhi, Quartier Latin di Paris, La Rambla di Barcelona, London Bridge di Perth, soi 38 Sukhumvit di Bangkok, serta jalan selat panjang di Medan. Benar-benar hidup! Sayangnya waktu itu tidak didukung cuaca cerah dan jalanan sangat padat wisatawan. Sehingga menyulitkan untuk mengambil foto. Saya harus benar-benar mendapat tempat di mana turis tidak begitu bergerombol.

Suasana Rue des Bouchers

Satu hal penting di Brussels, bagaimana berinteraksi di negara yang penduduknya bicara  bahasa Perancis, Belanda, dan (sedikit) Jerman?Menggunakan tiga bahasa tersebut atau bahasa Inggris? Menurut pengalaman saya, di sini lebih mudah berbahasa Perancis daripada Inggris. Jadi untuk mereka yang bisa bahasa Perancis, gunakan bahasa ini untuk berkomunikasi. Cerita panjang tentang cuaca, kerajaan, situasi politik dan perdagangan, kondisi pariwisata terkini hingga diskusi tentang komik akan mengalir panjang dari para pegawai atau penduduk lokal di banyak tempat yang kita temui. Seru!