June 13

*Dimuat di Majalah National Geographic Traveler Indonesia Edisi Maret 2012.

Cipratan air terjun Haew Suwat membasahi wajah dan sebagian tubuh saya. Padahal saya berdiri pada jarak yang cukup jauh. Debit air sungai-sungai di Taman Nasional Khao Yai (TNKY), Thailand memang tengah meningkat pada musim hujan.

Haew Narok Waterfall

Di musim ini, air sungai Prachinburi, Nakhon nayok, dan Lam Ta kong yang memberikan kehidupan bagi kawasan sekitar taman nasional mengalir sangat deras. Bisa jadi alirannya sederas ancaman pemburu Gaharu illegal, anjing liar, dan wisatawan yang menganggap dirinya baik hati dengan memberi makan satwa di dalam kawasan taman nasional.

Semilir angin telah membawa percikan air dan menciptakan gelombang pada kolam di bawahnya. Udara sejuk melengkapi pepohonan yang rapat memayungi kawasan sekitar air terjun. Saya membiarkan rasa dingin dan basah memagut kulit yang menjalar hingga ke seluruh tubuh.

Inilah kawasan konservasi tertua di Thailand yang menerima hampir satu juta wisatawan pertahunnya. Apa yang menyebabkannya begitu populer ? Leonardo DiCaprio kah ? mungkin. Para penggemar film tentang perjalanan boleh jadi masih ingat adegan spektakuler Richard yang diperankan Leonardo DiCaprio dalam film The Beach (2000) ketika melompat dari air terjun setinggi 15 m yang setting lokasinya ada di depan saya ini.

Haew Suwat Waterfall

“Khao Yai” berarti gunung yang besar, adalah taman nasional pertama Thailand yang dibentuk pada tahun 1962. Kawasan pegunungan seluas 2,165.55 km² dengan puncak tertinggi Khao Rom setinggi 1,351 m dpl. Mencakup empat Propinsi yaitu Nakhon Ratchasima, Nakhon Nayok, Saraburi, dan Prachinburi yang menjadikannya sebagai salah satu taman nasional terluas di negeri itu. TNKY memiliki ekosistem penting  dan biodiversitas yang sangat luar biasa. Dunia mengakui dengan memberikan status ASEAN Heritage Park pada November 1984, serta status Warisan Dunia Alam UNESCO yang disematkan pada Juli 2005 bersama dengan Taman Nasional Thap Lan, Taman Nasional Pang Sida, Taman Nasional Ta Phraya dan Dong Yai Wildlife Sanctuary, atau lebih dikenal sebagai cluster Dong Phayayen Khao Yai – Forest Complex.

Interpretation Board

Sebelum diberi status taman nasional, kawasan ini adalah cikal bakal sistem irigasi pertama di Thailand, pembangunan infrastruktur berupa jalan raya yang besar dan mulus berintegrasi dengan jalur kereta api yang saling terhubung dengan kota-kota dan desa-desa. Di salah satu titik yang terisolir para perampok dan penjahat pernah membangun kampung untuk tempat persembunyian. Hingga pada 1932 pemerintah akhirnya berhasil merelokasi penduduk dan “menghapus” kampung tersebut. Bekasnya masih bisa disaksikan saat ini dalam taman nasional berupa padang rumput .

Bukan hanya di dalam taman nasional, kawasan penyangga yang mengelilinginya juga mendapat anugerah kekayaan alam Khao Yai. Sungai yang mengalir deras, iklim yang basah dan dingin menciptakan berbagai aktivitas wisata dan membangkitkan gairah industri kreatif yang diciptakan oleh masyarakat setempat. Empat Propinsi penyangga hidup dari aktivitas wisata dengan wilayah utama Pak Chong dan Wang Nam Kheo, desa wisata modern di Propinsi Nakhon Ratchasima yang masyarakatnya bahu membahu dengan investor dari kota-kota besar di Thailand menyediakan jasa dan layanan wisata. Mulai dari safari gajah, golf, rafting, pusat perbelanjaan ala Italia, winery, pasar sayur dan buah segar, peternakan sapi yang juga menyediakan restoran steak terbaik di negeri ini, hingga resort-resort mewah dengan pemandangan pegunungan dan hutan, ditopang infrastruktur serta fasilitas modern yang diinisiatif oleh Raja Bhumibol Adulyadej.

Hari itu saya bersama Banloo Panklang atau akrab disapa Phi Aod. Phi adalah panggilan akrab untuk menghormati lelaki yang lebih tua di Thailand. Hampir setiap hari dia hilir mudik ke berbagai titik penting untuk melihat permasalahan di dalam taman nasional. Phi Aod adalah pemuda lokal asal Prachinburi yang telah mengabdikan 30 tahun hidupnya untuk TNKY. Ayah Phi Aod adalah staff Khao Yai yang sudah pensiun sementara ibunya berjualan makanan hangat untuk wisatawan di kantin Visitor Center.

Phi Aod adalah orang kepercayaan kepala TNKY, pimpinan tertinggi di kawasan itu. Dedikasi Phi Aod telah menghembuskan nafas dan memberikan roh pada hutan lebat Khao Yai dengan aneka warna daun yang saya saksikan berubah sesuai tiga musim di Thailand. Phi Aod mengenalkan saya pada Pom, pemuda lokal asal Pak Chong, Nakhon Ratchasima yang berpengalaman 15 tahun menjadi pemandu trekking di hutan Khao Yai. Dia masih berhubungan saudara dengan pemilik Greenleaf, usaha tour operator lokal tempat ia bekerja yang juga menyediakan warung dan tempat penginapan sederhana di daerah Pak Chong. Pom yang sudah memiliki pergaulan internasional tidak pernah mau menyebutkan nama aslinya pada saya. Walau dia tahu bahwa saya sudah terbiasa dengan nama orang Thailand, tapi dia tetap merasa bahwa nama mereka sulit dibaca dan diingat oleh orang asing. Kali itu dia mengajak saya ikut group trekking pendek dengan wisatawan Eropa dan bertandang ke “restoran para satwa”.

Hampir setiap hari dan akhir pekan sepanjang tahun, Khao Yai membuka pintunya untuk semua penyuka keriaan dan kesejukan alam. Pada saat itu, semua jenis wisatawan dapat dilihat di Khao Yai. Mulai dari para penikmat air terjun dan pemandangan indah dari berbagai gardu pandang  yang datang dengan mengenakan high heels, pengamat burung fanatik, penggemar camping, hingga trekker penjelajah hutan.

Khao Yai memang surga bagi penyuka satwa. Kawasan ini menjadi rumah bagi 296 spesies termasuk 31 jenis mamalia, 221 jenis burung, 32 jenis reptil, dan 12 jenis amphibi. Beberapa spesies karismatis menempati kawasan ini seperti gajah asia (Elephas maximus), Owa tangan putih (Hylobates lar), pilated gibbons (Hylobates pileatus), harimau (Panthera tigris), gaur (Bos gaurus), dan rangkong papan (Buceros bicornis). Beberapa diantaranya saya tahu relatif mudah ditemui tanpa sengaja dalam kawasan. Monyet serta dua jenis rusa (Sambar deer dan Barking deer) muncul hampir setiap saat di Visitor center, kantin, jalan raya, dan areal camping. Saya pun bertemu musang, landak hutan, dan binturong ketika safari malam. Wisatawan lain bahkan selalu bertemu gajah liar di sore hari tanpa sekalipun pernah saya lihat.

“Ini jalur trek favorit, karena singkat dan banyak yang dilihat,” Pom menjelaskan jalur dalam hutan sepanjang 3 km yang kami tempuh selama 2 jam berjalan kaki saat itu. Jalur ini berakhir di Menara Observasi Nong Pak Chi. Tempat strategis untuk menyaksikan banyak satwa. Sepanjang jalan, saya hanya menatap wisatawan Eropa di group ini yang berteriak kegirangan bertemu kaki seribu, berbagai jenis burung, terutama rangkong, dan terpukau pada hutan yang kami lalui.

Pom menepati janjinya. Dia mengajak kami ke sebuah tempat dimana ada pepohonan beringin yang sedang berbuah lebat. Dekat pohon tersebut ada salt lick yang pernah disebut Phi Aod sering disambangi gajah liar. Banyak group wisatawan asing lain yang juga berhenti di situ. Kami semua menatap kearah yang sama. Pohon beringin di seberang jalan yang disebut Pom sebagai restoran para satwa. Saya sibuk menghitung monyet yang mulai memenuhi dahan. Di sisi lain, dua ekor bajing hitam raksasa juga mulai berdatangan. Seolah melengkapi keberuntungan kami, Rangkong papan juga mulai bertengger dan ikut berpesta. Sampai akhirnya 3 ekor Owa tangan putih turut bergabung. Pom membawa teropong dan membiarkan kami menikmati tontonan langka di depan sana. Cukup lama kami berdiri mengamati hingga Pom akhirnya mengajak kami ke salah satu dari banyak titik pandang  yang sangat mudah diakses pada taman nasional ini. Pha Deaw Dai, yang berarti lembah sunyi, memberikan pemandangan hutan lebat dan pegunungan dengan sudut pandang seluas 180 derajat di ketinggian.

Kabut dan tetesan hujan mulai turun, menutupi lukisan alam dengan warna yang tak dapat ditandingi isi kotak krayon manapun di depan sana. Saya tak mau melewati pemandangan ini, karena kabut putih itu sudah mengubah semua warna alam di sekitar saya menjadi abu-abu.

Info Praktis:

Khao Yai punya dua akses masuk. Pak Chong adalah gerbang terdekat dari Bangkok, dicapai 2,5 – 3 jam kendaraan darat. Sewa taksi dari Bangkok 1500 – 1800 THB tidak termasuk bensin dan tol. Tiket masuk 400 THB. Tiket 40 THB jika menunjukkan bukti tinggal di Thailand.

Jika naik kendaraan umum, Bis Bangkok – Pak Chong berangkat dari terminal Mo Chit setiap jam (THB 139 tarif 2010-2011). Turun di Pak Chong, Sambung Song Taew (sejenis angkot lokal) 30 THB (tarif 2010-2011). Song Taew hanya berhenti sampai gerbang taman nasional. Setelah itu harus hitchhike karena dalam taman nasional tidak ada kendaraan umum. Pilihan lain ikut paket tour yang banyak dijual di Stasiun BTS Saphan Taksin. Harga beragam dari 1800 – 3000 THB untuk full day package tanpa menginap.

Perhatian, kendaraan dan mobilisasi di dalam taman nasional cukup sulit tanpa kendaraan. Pilihan lain bisa menginap di Pak Chong lalu beli paket tour trekking (level: mudah) ke dalam taman nasional sehingga memudahkan pergerakan di dalam taman nasional.

Jika ingin menginap, Pak Chong banyak pilihan hotel mulai dari yang sangat murah 500THB/malam – sampai kelas resort seharga 15000 THB/malam. Jika ingin menginap di dalam kawasan taman nasional, ada camping ground dengan fasilitas sangat lengkap dan kondisi baik. Di sini bisa menyewa tenda, sleeping bag, selimut, sampai arang dan peralatan BBQ.

Selain itu juga ada pondok-pondok seharga 800 –  1500 THB/malam. Jika menginap dalam taman nasional, harus menyiapkan makanan sendiri karena kantin di dalam taman nasional menyediakan makanan yang terbatas. Jika menginap di Pak Chong banyak pilihan warung dan restoran.