June 3

*Dimuat di Majalah MORE Indonesia Edisi Mei 2012.

Wisata kuliner adalah salah satu benang merah penghubung antara wisatawan, destinasi, dan masyarakat setempat. Di banyak tempat di dunia, kuliner lokal menjadi lidah penyambung yang relatif mudah dengan masyarakat setempat.

Saya pernah berjam-jam berbincang mengenai tiram dengan salah satu pemilik restoran di Archacon, pantai paling terkenal untuk wisatawan di Barat Daya Perancis. Tiram, yang dimakan mentah dengan perasan lemon segar adalah produk kuliner unggulan dan salah satu alasan wisatawan datang ke Arcachon selain karena pantainya yang cantik. Saya pun mencobanya dan dihadiahi satu nampan tiram segar gratis!.

Sedangkan di Waerebo, kampung pedalaman Flores, NTT yang belum tersentuh listrik, kami menghabiskan bergelas-gelas kopi sambil membicarakan tradisi makan nasi dengan alpukat yang dilakoni masyarakat setempat saat musim buah tiba. Di Vietnam lain lagi. Seorang juru masak asal Perancis (dan yang paling terkenal seantero negeri itu) yang bertugas di salah satu hotel bintang lima di Hanoi dengan bangganya bercerita tentang mie lokal Pho, yang wajib dicoba oleh semua wisatawan yang datang ke negeri itu.

Ada satu hal sama yang saya rasakan saat ngobrol tentang kuliner lokal dengan orang-orang berbagai latar belakang dan budaya itu: kebanggaan. Saya dapat merasakan bangganya orang Indonesia ketika ada warga asing yang mengatakan suka nasi goreng atau rendang walau ada ribuan makanan nusantara yang enak-enak dan patut dibanggakan. Atau orang Thailand yang akan tersenyum lebar ketika kita mengatakan menyukai  Somtam. Bahkan penduduk Barcelona, Spanyol (kota yang dianggap bukan Spanyol oleh orang Spanyol) akan merentangkan tangan dan berteriak kegirangan ketika kita mengatakan sudah mencoba Paella atau nongkrong di tapas bar di daerah La Rambla. Semua akan merasa bangga dan langsung akrab seperti teman lama.

Di kampung-kampung kecil dimana interaksi dengan masyarakat setempat memungkinkan untuk dilakukan, pembicaraan mengenai kuliner akan membuat kita diterima seperti keluarga.

Namun perbincangan itu perlu didasari ketulusan (sincerity). Tak harus berpura-pura suka terhadap jenis makanan lokal tertentu jika hanya ingin mendapat bahan perbincangan dan diterima oleh suatu kelompok masyarakat di destinasi wisata yang didatangi. Selain itu, tidak semua destinasi wisata memungkinkan kita berinteraksi dengan masyarakat setempat. Berwisata kuliner di kota-kota besar misalnya, terkadang tidak memungkinkan kita untuk berbincang dengan pemilik restoran atau juru masak yang sedang bertugas. Terkadang, pembicaraan juga tidak harus berlangsung dengan pihak yang berkaitan langsung dengan kuliner seperti juru masak atau pemilik restoran. Bisa saja anda berbicara dengan pemandu lokal, atau kebetulan bertemu orang setempat dan terlibat obrolan seputar kuliner.

Jangan terkejut bila diundang untuk makan bersama keluarga yang anda temui di suatu tempat. Di perkampungan kecil di Indonesia, dan banyak negara lain di Asia Tenggara, kemungkinan untuk diajak makan bersama keluarga sangat memungkinkan ketika seseorang merasa akrab dan ingin menjamu makan bersama keluarganya. Jika itu terjadi, artinya anda diterima oleh keluarga tersebut.

Jika ditawari makanan tertentu yang menjadi pantangan anda karena program diet atau kepercayaan/agama, tak perlu ragu untuk menolak dan mengatakan alasannya. Kalau disampaikan dengan baik biasanya tidak akan ada yang tersinggung.

Selain itu, tak perlu membandingkan  makanan yang biasa anda makan sehari—hari.  Setiap makanan di setiap daerah dan setiap tempat tentu berbeda rasa dan penyajiannya. Berani mencoba adalah kunci untuk bisa mendapat pengalaman baru.

Jika memang ingin mencoba kuliner lokal, tempat yang dikenal dan selalu didatangi oleh masyarakat setempat biasanya lebih menarik daripada tempat yang direkomendaskan untuk wisatawan.

Makanlah di tempat yang menyediakan makanan dengan menu lokal  terutama yang bersumber dari produk lokal. Karena biasanya lebih segar, sehat, dan memberi manfaat pada lingkungan dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Selamat berwisata kuliner !.