March 14

*Blog post ini dimuat di Majalah Panorama Edisi Mei – Juni 2012

Revisit atau kunjungan ulang ke suatu tempat selalu memberi sensasi tersendiri buat saya. Tujuannya, bisa membandingkan situasi dulu dan sekarang. Seperti yang saya lakukan saat ini, kembali datang ke Lombok. Saya mengunjungi pulau ini beberapa kali dalam kurun waktu tahun 2006-2007. Kunjungan ini saya ulangi lagi pertengahan Maret tahun 2012. Sayangnya, sepanjang kunjungan matahari terlalu malu untuk menampakkan diri.

Lima tahun mungkin waktu yang cukup lama untuk bisa melihat perubahan suatu tempat. Saat saya tiba matahari enggan menemani, tapi Lombok tetap tidak kehilangan pesonanya. Bandara yang lama dulu berada di Selaparang, Kota Mataram, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kawasan wisata Senggigi. Wisatawan akan segera bergerak ke arah Pantai Sengigi untuk kemudian menyeberang ke Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air atau mendaki ke Gunung Rinjani. Sementara pengunjung bisnis akan memilih berada di Mataram. Bisa dibayangkan praktis kegiatan pariwisata terpusat di Lombok  bagian barat. Sekarang bandara internasional yang baru beroperasi pada Oktober 2011 terletak di daerah Praya, berada di (hampir) bagian tengah pulau ini. Sehingga memudahkan kunjungan ke daerah wisata lain seperti Pantai Kute, Mawun, Tanjung Aan, Selong Belanak, atau Tetebatu. Apalagi, pemerintah juga mulai fokus terhadap “pengalihan” alur wisatawan ke jalur utara, barat daya hingga selatan pulau ini. Sejatinya, kue pariwisata akan lebih terbagi.

Bandara yang baru ini juga mengingatkan saya pada bandara internasional di Chiang Mai, Thailand. Suasananya mirip walau bandara di Chiang Mai lebih besar dan teratur. Keluar dari bandara, saya “disambut” kerumunan orang yang menawarkan jasa transpor atau hotel, serta masyarakat setempat yang menyemut memandangi dengan rasa ingin tahu.

Pemerintah setempat tampaknya serius mengintegrasikan destinasi wisata dengan melancarkan akses jalan Provinsi yang dibuat mulus ke tempat-tempat wisata utama. Terintegrasi dengan bandara internasional yang saya yakini punya visi pengembangan sangat besar dimasa depan. Saya ngeri membayangkan persawahan cantik dengan latar belakang pegunungan di sekitar bandara kemungkinan akan menjadi jajaran hotel, villa, restoran, dan toko souvenir dalam 3-10 tahun mendatang.

Ada ungkapan bahwa di Lombok bisa melihat Bali tapi di Bali tidak bisa melihat Lombok. Tapi baiklah, lupakan sejenak Bali. Pulau tetangganya yang sudah lebih dahulu bersinar. Lombok ibarat Bali ketika belum tersentuh pariwisata. Jadi saya ingin menikmati Lombok sepuas yang saya bisa dalam keadaannya seperti sekarang. Di sini, persawahan dan pegunungan belum terhalang oleh bangunan hotel-hotel menjulang. Pantai-pantai perawan berpasir putih yang tak terlalu ramai pengunjung dengan air biru sebening kaca seolah adalah milik pribadi. Bersepeda di kampung-kampung kecil juga  masih menyisakan pemandangan alami bukan buatan untuk komoditas turis.

Pulau seribu mesjid ini tengah menggeliat, membentuk identitas untuk pariwisatanya. Lombok berjuang mengembalikan citra sebagai destinasi aman pasca kerusuhan tahun 2000. Dua belas tahun setelah itu, Lombok mulai berhasil menjadi destinasi impian wisatawan domestik dan mancanegara.

Walau begitu, pariwisata Lombok memang juga bergantung pada Bali sebagai pintu masuk. Anita teman saya pemilik tour operator lokal pernah bergurau mengenai kepanjangan NTB, nama provinsi Pulau Lombok bernaung sebagai– Nasib Tergantung Bali.

Lombok mendapat limpahan wisatawan dari Bali saat perayaan Nyepi. Bukan hanya itu saja, tapi juga mendapat berkah dari mereka yang mencari full moon party di sepanjang Gili Trawangan, honeymooners yang mencari ketenangan di resort-resort mewah di Mangsit, Pencari sepi di Gili Meno dan Gili Nanggu, peserta seminar dan pelatihan di Mataram, penyuka budaya yang berkunjung ke kampung-kampung tradisional sasak maupun sentra tenun dan tembikar, wisatawan keluarga di Gili Air dan Senggigi, pencari udara sejuk di Tetebatu, para penjelajah alam ke Taman Nasional Gunung Rinjani, dan para peselancar yang menjelajah Bangko-bangko, Sekotong, hingga ke Gerupuk. Pembangunan hotel high-end dan villa-villa mewah makin menjamur di Lombok. Namun seperti banyak destinasi wisata berkembang lain di tanah air, akomodasi level menengah masih minim.

Saya memulai perjalanan nostalgia saya dari jalur klasik di pantai Sengigi. Restoran the Office di Pasar seni Senggigi tetap seperti yang dulu. Dengan dekor dan suasana yang tidak berubah sama sekali. Di depannya masih bersandar kapal-kapal nelayan di atas pasir yang berkilau. Restoran ini tempat mangkal paling populer karena letaknya yang strategis.

“Kalau musim liburan, pantai di depan ini penuh orang yang lewat. Bangsal (pelabuhan penyeberangan ke tiga gili) juga padat,” kata staff restoran ini. Semua masih seperti yang dulu. Tak ada perubahan signifikan selain keramaian jajaran restoran dan keriaan ala Bali yang penuh warna dan suara dimalam hari. Ini bukan musim liburan. Namun keramaian yang ada seperti sudah memasuki bulan Juni – Agustus.

Saya juga menyempatkan diri menikmati teh sore yang hangat dan nasi goreng ala lokal di Coco Beach, di daerah Kerandangan, Senggigi. Café tepi pantai ini menjadi tempat hang out kegemaran turis dan kalangan the have dari Mataram. Semua masih terawat rapi seperti dahulu dan tampaknya tempat ini makin dikenal oleh lokal dan turis asing.

Keesokan hari saya melanjutkan perjalanan ke Gili Meno. Salah satu dari tiga gili. Terletak di antara Gili Trawangan dan Gili Air, pulau seluas kurang lebih 150 hektar dengan jumlah penduduk kurang dari 900 orang ini adalah pulau terkecil dibanding dua gili lainnya. Gili Meno adalah pulau yang paling sepi dibanding  Gili Trawangan (atau Gili T). Gili T memiliki pilihan tempat menginap, makan, bahkan party lebih bervariasi dan paling ramai dikunjungi. Gili Meno sendiri kurang populer untuk wisatawan domestik yang lebih memilih keramaian di Gili T.

“Kenapa ke Gili Meno ? di sana sepi dan tak ada party,” kata petugas kapal yang mengantar saya ke pulau ini. “Kalau mau island hoping ke Trawangan dan Air juga sulit dari Meno. Di sana tidak ada apa-apa. Yakin mau ke sana?” tambahnya lagi. Kami berhenti bicara karena ombak di musim hujan dengan gelombang setinggi 2 meter lebih menyambut di depan sana. Cukup mampu membuat kapal terguncang ke kanan dan ke kiri dihantam ombak dan angin kencang. Perjalanan ke Gili Meno cukup singkat. hanya sekitar 30 menit. Namun mampu memompa adrenalin yang membuat denyut jantung berdetak lebih kencang. Di musim lain, lautnya bisa setenang orang tidur.

Air laut di pantai Gili Meno memancarkan warna biru kehijauan walau saat itu sedang mendung. Airnya masih bening dan bersih. Diantara tiga gili, pantai yang paling indah dan pulau yang paling alami adalah Gili Meno. Di tengah pulau ini terdapat danau air asin yang disebut sebagai laut terkecil oleh penduduk lokal. Cukup memikat karena dikelilingi hutan bakau dan kekayaan beragam jenis burung migran. Saya menyesal karena melupakan teropong kesayangan saya. Namun burung-burung itu masih bisa dinikmati dengan mata telanjang.

Ada juga Gili Meno Bird Park yang terletak di bagian tengah pulau. Namun harga tiket tidak sebanding dengan banyaknya koleksi burung yang ditempatkan dalam sangkar. Burung-burung yang terbang bebas di sepanjang pantai dan tepian danau lebih menarik untuk dilihat. Gili Meno yang alami juga memiliki  pusat pembenihan penyu yang banyak terancam akibat aktivitas wisata di sekitar pantai. Pusat pembenihan ini menerima dukungan dari banyak wisatawan yang datang dengan memberikan donasi untuk pelepasan tiap penyu.

Anita bercerita bahwa saat ini wisatawan domestik sudah mulai ramai ke Lombok, bersaing dengan wisatawan asing. Namun saat ini saya satu-satunya wisatawan domestik di Gili Meno. Kadang sedikit merasa asing di negeri sendiri. Penawarnya, keramahan masyarakat lokal yang dengan mudahnya menegur dan berbicara dengan saya di manapun.

Menyusuri pulau bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau naik cidomo (kereta kuda/delman). Tarifnya sudah naik Rp. 10.000 – 20.000 dibanding kunjungan saya terdahulu. Setelah naik cidomo, saya berjalan kaki menyusuri pantai dan kampung-kampung di bagian dalam Gili Meno. Serasa punya pulau pribadi ! saya bisa memilih di pantai mana pun saya suka untuk berenang atau main air. Sepanjang pantai pembangunan baru memperlihatkan geliat gairah aktivitas wisata di sini. Hampir seluruh tepian pantai sudah ditempati resort-resort atau restoran yang sudah dan akan dibangun. Pembangunan ini juga sudah menjalar ke kampung-kampung di bagian tengah pulau. “Semua tanah di tepi pantai sudah jadi milik bule. Orang asli sini sudah pindah ke dalam kampung. Semua sudah dijual. Tanah di kampung pun sekarang sudah diincar,” kata staff dari salah satu restoran tempat saya makan. “Walau begitu, masih banyak orang lokal yang memiliki usaha akomodasi dan restoran.”

Kalau di Gili T masih dimungkinkan bersepeda, di Gili Meno tidak ada penyewaan sepeda. Sepeda hanya menjadi kendaraan penduduk lokal karena di tiga gili tidak ada kendaraan bermotor. Pulau yang kecil membuat cidomo dan sepeda akan sedikit bersaing. Saya bisa membayangkan, sekali sepeda diizinkan beroperasi untuk wisatawan, cidomo mungkin akan kehilangan banyak pelanggan. Sepeda-sepeda itu juga harus sering dirawat. Kalau tidak, udara dan air laut yang tajam membuat besi-besi pada sepeda berselimut karat. Seperti yang saya lihat pada kebanyakan sepeda di sini.

Walau air laut yang bersih sebening kaca melimpah ruah, Gili Meno kesulitan pasokan air bersih. Sebagian warga dan usaha wisata masih mengandalkan pasokan air bersih dari Lombok atau tadah hujan. Hotel-hotel menyediakan air bersih hanya untuk mandi dan minum. Tapi di bagian luar bangunan semua harus rela mengkonsumsi air laut. Kapal-kapal dari pelabuhan Bangsal di Lombok akan memenuhi muatannya dengan bergalon-galon air, gas, sayur-sayuran, buah-buahan, dan berbagai kebutuhan dasar lainnya untuk “diekspor” ke pulau ini. Wisatawan yang mau ke sini tanpa kapal charter, akan bersatu dengan penduduk lokal dan barang-barang kebutuhan bawaanya dari Lombok.

Kalau malam, sinar lampu dan suara pesta club-club sepanjang pantai Gili T  bisa dilihat dan didengar hingga ke Gili Meno. Menyusuri malam di sini, cukup dengan makan ikan bakar yang segar dalam berugak (pondok ala Lombok, seperti bale bengong) milik restoran di sepanjang pantai yang menghadap Gili T. Lampu-lampu dan suara musik dari pulau seberang menjadi teman selain suara alam yang berasal dari ombak lautan. Seperti di Senggigi dan dua gili lainnya, selain menu BBQ makanan laut atau menu lokal, pizza kayu bakar adalah menu favorit. Pizza ikan teri termasuk menu yang patut dicoba. Saya butuh tiga hari hanya untuk mengelilingi dan bermain di Gili Meno.

Saya masih menyisakan perjalanan nostalgia saya melihat pusat bisnis mutiara, sentra tenun di Sukarara dan industri pembuatan tembikar di Banyumulek, serta Pantai Kute dan Tanjung Aan. Semua masih seperti dahulu. Namun untuk menghindari keramaian di Desa Sasak Sade, saya lebih memilih untuk mengunjungi Desa Sasak Ende yang relatif lebih kecil. Saya juga ke Mataram untuk mengakhiri perjalanan nostalgia saya. Kota ini semakin ramai oleh wisatawan yang transit ke destinasi lain. Mataram adalah tempat ideal untuk menjajal kuliner lokal. Apalagi warung makan yang buka saat malam semakin beragam. Selalu ada tempat untuk makan ayam Taliwang, ikan bakar, urab-urab, plecing kangkung dan plecing tempe-tahu.

Satu hal yang sangat saya sayangkan, masyarakat dengan mata pencaharian penjual souvenir , paket tour, dan transpor cukup menggangu wisatawan dan bahkan ada yang melakukan pemaksaan. Terutama di Bandara, sebagian Pantai Senggigi, Pantai Kute, dan Tanjung Aan. Kalau tidak serius ditata, tempat-tempat indah dan cantik di Lombok akan menjadi tanpa makna dan tidak nyaman. Kuncinya memang pada pengembangan sumber daya manusia.

Saya masih akan datang lagi ke Lombok. Bukan untuk nostalgia, tapi untuk berkunjung ke tempat lain yang akan menjadi pertama kali buat saya.